Keberadaan atas sesuatu, setidaknya membutuhkan 3 hal sebagai pendukungnya. Politik, teori, atau penerimaan masyarakat. Politik mampu membentuk kebohongan menjadi kenyataan melalui media. Sementara teori mampu menjadikan yang tak berpola menjadi sesuatu yang diterima akal sehat meskipun belum terbukti benar adanya. Sementara penerimaan masyarakat mampu menciptakan kearifan bahkan untuk sesuatu yang tidak masuk akal.
Setidaknya itulah pola pikir kuat yang ditawarkan Elizabeth Hurd dalam melihat konflik "atas nama agama" yang belakangan ini terjadi. Hurd memberikan pandangan yang jeli menyikapi "kebenaran" yang hari ini menjadi topeng kepentingan. Baginya, UU kebeasan berkeyakinan dan beragama (KBB) tidak lagi kuat menghadapi konflik keyakinan internasional hari ini. Adanya KBB yang dalam politik misalnya justru memperumit konflik karena agama politik mayoritas ahirnya justru menjadikan KBB sebagai alat untuk justifikasi "mana yang layak disebut agama dan mana yang bukan". KBB di tangan intelektual juga memperumit agama sebagai definisi-definisi semata. Gagal dalam memperkenalkan identitas kemuliaan agama itu sendiri.
Sementara KBB dalam masyarakat justru berjalan baik karena masyarakat tidak butuh definisi dan legitimasi. Cukup dilakukan. Asalkan baik bagi sesama, maka itulah agama. Pernahkan kita berfikir mengapa umat agama A dan B atau golongan A dan B di satu tempat rukun sementara di tempat lain malah bertengkar? Dalam hal ini, Hurd mengidentifikasi adanya penyempitan analisis sehingga masyarakat justru ikut-ikutan menjadi akademisi yang ribet bicara definisi. Lainnya berlagak politis dengan argumen regulatif. Lebih layak disebut konflik kepentingan daripada konflik agama.
Rekan mahasiswa yang budiman, marilah kembali kita sadari agama sebagai bentuk "way of live" dan mencoba lebih kritis dalam menerima berita. Memang pendidikan mengharuskan kita untuk bongkar pasang definisi. Namun tanpa melalui tahapan observasi yang panjang, asumsi prematur yang kita keluarkan justru akan memperkeruh keadaan. Hati hati saat nge-share berita atau argumen, tidak ada buruknya membagikan sesuatu yang bermanfaat, namun bermanfaat bagi kita belum tentu bermanfaat bagi yang lain. Ibarat bayi yang bisa keracunan micin atau anjing yang bisa mati jika kebanyakan makan coklat.
Semoga bermanfaat. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar