Senin, 16 Oktober 2017

NDESO !!!

Lokalitas dan Kebebasan

Spirit lokalitas agaknya masih digadang sebagai tonggak awal di milenium ketiga ini. Hali ini didukung oleh banyaknya putra desa yang terbekali wawasan intelektual lewat akademik maupun pergaulan. Seperti kita saksikan belakangan ini kata "ndeso" mulai jadi buah bibir kala sang putra presiden tersandung kasus penodaan agama lewat video youtubenya.

Istilah "ndeso" acap kali terdengar sebagai kata umpatan akrab di daerah berkembang. Di telinga saya sendiri, kata "ndeso" tidak lebih pahit dibanding kata "celeng" atau "asu". Mirip mirip "jancuk" lah. Toh baik wong magelang, solo, mupun jogja terbiasa memanggil teman akrabnya dengan sebutan "ndes" yang berasal dari kata "ndeso".

"Pie ndes kabare? Apik to?
Hampir sama dengan
"Pie Cuk kabare? Apik to?"

Biasa saja, di tempat saya tidak ada orang tersinggung dengan kalimat tersebut. Lantas mengapa ketika Kaesang yang mengeluarkan diksi tersebut mendadak jadi hits?

Bisa jadi karena nuansa keakraban saya dan kawan2 ndeso saya tingkatannya sudah adiluhung. Ndak penting lagi perkataan, kami lebih menghargai senyuman dan sikap sosial. Disanalah perbedaan pergaulan nyata dan pergaulan netizen. Dalam komunikasi virtual macam youtube dan fb tidak ada yang bisa mengukur tingkat emosi seseorang. Padahal sudah ada fasilitas Emoticon untuk melengkapi celah ini. Tetap saja setiap kata bisa menjadi sensitif tergantung panjang dan pendeknya sumbu audiens nya.

Jika kita melihat viralnya kata Ndeso ini lewat pendekatan konflik, tentu akan menjadi rumit. Lebih lebih posisi Kaesang sebagai putra presiden lebih kuat imejnya daripada seorang youtuber. Jadi muatan emosi yang dibawanya tidak lagi dinilai sebagai sebuah karya, melainkan ekspresi politik.

Di sisi lain, akan menarik jika kita mencoba menelaah peristiwa ini melalui pendekatan fenomenologi. Jadi, kita tidak harus memusingkan diri atas golongan pro dan kontra, untung dan rugi. Ada lokalitas yang mau tidak mau harus diperhatikan. Seperti halnya Novel Genduk karya Sundari yang masuk di sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award tahun lalu, ada semacam kesepian akan bahasa lokal dari samudra sastra kita. Setelah Bumi Manusia, Ronggeng Dukuh Paruk, mana lagi karya sastra yang bermuatan bahasa lokal? Sedikit.

Lalu apa hubungannya?

Diksi "ndeso" dan diksi lokal sejawatnya, saya kira bisa menjadi tangga bagi masyarakat (khusunya netizen) untuk kembali mengapresiasi bahasa lokal dan konteks yang dibawakan. Bukan lagi waktunya mengekor barat atau tesihir trend mainstream yang disajikan televisi. Sehingga munculnya bahasa lokal bisa diparesiasi dengan baik. Tidak hanya diksi "ndeso" saja yang sedang naik daun, bahasa osing lewat langu "kanggo riko" dan bahasa jalanan NDX juga tangga lokalitas yang butuh perhatian. Terlepas dari kualitas musiknya, grup musik dengan bahasa lokal diterima dengan baik oleh masyarakat.

Lalu, Tentang kesadaran dan sikap politik yang mulai bangun dari berbagai komunitas, saya setuju dengan pendekatan Bambang Sugiharto. Beliau memaparkan bahwa adanya sikap politik yang tumbuh dari kantong komunitas adalah buah kesadaran, bahwa hari ini sudah banyak masyarakat dengan filter tinggi dalam menerima informasi. Tidak mudah digiring kesana kemari. Tapi masalah intinya, dengan adanya kesadaran tersebut adalah pola struktural yang belum memadahi.

Banyak orang bilang, hari ini negara masih gagap menghadapi kebebasan berekspresi. Mana yang karya, mana yang merupakan sikap politik, semakin tipis bedanya. Pun keduanya punya dampak nyata. Maka wajar jika masyarakat masih kesulitan memahami diksi "kondisi genting" dalam konteks bernegara. Ya jelas, negara kan pola praktiknya general, beda dengan komunitas yang berpola khas nan lokal dalam berpikir maupun bertindak.

Babak selanjutnya, manakala sikap "general" pemerintah malah justru terkesan otoriter dan menabrak HAM, diksi "kebebasan berekspresi" menjadi suara baru dari beberapa kubu yang dirugikan. Nampaknya ada yang lupa dengan peristiwa pembubaran pameran tahun lalu. Kala kebebasan berekspresi digilas oleh "etika general" dengan isu "kiri".

Ekspresi macam apa itu? Benar benar ndak ada khas nya sama sekali.

Yo ra Ndes?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar