Sikap seorang Moderat
Sore ini alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri sebuah diskusi tentang pemikiran Gus Dur yang digawangi oleh komunitas gusdurian. Lebih fokusnya mengacu pada statement Gus Dur yang berbunyi "Tuhan tidak perlu dibela"
Sayang sekali sore tadi kedatangan saya terlambat dan hanya mnangkap babak akhir dari perhelatan diskusi tersebut. Jadi, sebagai upaya saya untuk syukur nikmat atas perjumpaan yang mulia tersebut, saya ingin menulis sedikit dari sedikit hal yang saya peroleh.
Apa itu moderat ?
Secara sederhana moderat dipahami sebagai umat yang berada di tengah. Tidak kiri, tidak juga kanan. Dalam istilah arab sering disebut "ummatan wasathon". Maka golongan Moderat memiliki arti sebagai penengah atau penyeimbang. Tentu pada sebuah pemerintahan adanya "kiri" dan "kanan" tidak bisa terhindarkan, pada satu kondisi bisa berat ke kanan, pada kondisi lain berat ke kiri. Ketika kekuasaan kanan dan kiri seimbang tidak masalah, namun jika kekuasaan jatuh ke kiri ekstrim atau kanan ekstrim, pada saat itu juga kondisi menjadi tidak stabil, bisa dikatakan berbahaya. Melihat keadaan tersebut, maka menjadi Moderat adalah sebuah pilihan.
Bagaimana Tugas Moderat ?
Ada banyak hal yang berlawanan. Air dan minyak. Kanan dan kiri. Mainstream dan anti maintream. Segala hal yang berlawanan pada dasarnya saling terhubung dan memengaruhi. Bahkan seringkali justru yang berseberangan tersebut mampu menjadi pasangan yang hebat. Dampak negatifnya ketika dua kubu berseberangan itu bertemu pada kondisi yang tidak tepat, justru yang terjadi adalah benturan. Maka dengan adanya moderat, diharapkan menjadi mediator agar adanya perbedaan bukan menjadi alasan perpecahan, melainkan berkah dan kekayaan.
Guna memenuhi tugas tersebut, moderat juga diharuskan memiliki eksistensi di tengah masyarakat. Memiliki kekuatan untuk bertahan. Memiliki kecakapan dalam menyikapi perubahan. Dalam memenuhi hal tersebut, golongan Moderat yang selama ini bergerak apa adanya dan mulai melemah dengan munculnya golongan ekstirm yang kuat, dibutuhkan sikap anti kemapanan agar mendapat perhatian dari masyarakat.
Bagaimana jika ekstrim terlalu kuat?
Ada kalanya sebuah arena dialektika menjadi ruang doktrin dikarenakan superioritas yang tak tergoyahkan dari satu kubu. Bahkan jika di kampus yang notabene adalah ruang dialektika terbuka bagi mahasiswa dan pengajar, bisa jadi kini beralih fungsi menjadi pabrik sarjana saja. Mengapa bisa begitu? Karena kurikulum yang seharusnya bersikap moderat, lentur, dan menjadi rule yang solid bagi dialektika kini melemah. Gagal mewadahi hak-hak dialektis. Kurikulum bukan lagi hukum suci, melainkan alat gebug bagi superioritas. Jika hal ini benar terjadi, maka sebuah perguruan tinggi butuh kurikulum baru. Sebuah pemerintahan butuh aturan politik baru. Sebuah pertandingan, butuh arena baru lengkap dengan koridor dan seperangkat aturan. Menjadi moderat bukan lantas menjadi bijaksana saja tanpa menjaga sistem yang ada. Moderat haruslah menguasai medan tempur, namun tidak boleh ikut menjarah kemenangan.
Kesimpulan.
Begitulah pemikiran moderat yang diajarkan Gus Dur. Para moderat muda sebagai agen perubahan seyogyanya betul-betul memahami persoalan dan koridornya. Agar moderat tidak dijadikan kendaraan bagi kanan maupun kiri. "Tuhan tidak butuh dibela, tapi juga tidak menolak dibela". Membela atau tidak membela Tuhan adalah hak setiap manusia. Tapi menjaga ke-eka-an dalam bhinneka adalah tugas bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar