Nyawa dari sebuah hubungan yang harmonis adalah ketika take and give nya seimbang. Entah itu hubungan induk dan anak, pertemanan, hingga bisnis. Jadi bagi siapapun yang menguasai rumus keseimbangan take and give ini sepertinya tidak akan mengalami kesulitan dalam harmonisasi hubungan. Tapi bagaimana cara mengukur keseimbangan take and give ini? Bukankah manusia secara alami lebih jelas melihat semut di ujung samodra daripada gajah di pelupuk mata?
Nah ini masalahnya. Kadang perhatian yang begitu besar diterima sebagai kepedulian yang kecil. Mirip cara kita memandang kasih ibu yang sepanjang masa itu, berapa kali kita berucap terimakasih? Pernahkan kita membalas?. Sementara segelas kopi di pagi hari dari sang pacar terasa lebih baik dari dunia dan seisinya. Rusaknya nilai tawar ini adalah karena absennya rasa ikhlas dalam dunia "take & give". Karena dalam memberi dan menerima, ruhnya adalah ikhlas.
Lebih jauh lagi, selain take & give kita juga membutuhkan ikhlas sebagai nyawa dari setiap perbuatan. Hal ini mampu menjauhkan kita dari angan-angan jangka panjang. Misalnya, ngasih orang roti tapi mengharap ada yang nyooting dan masuk TV. Kan mbelgedez itu namanya. Kita bisa terjebak harapan palsu nan berkepanjangan. Mirip ABG yang galau lantaran gagal cari perhatian.
Ikhlas pada berbagai situasi menjadi kunci penting agar hati bisa semeleh dan damai. Ikhlas level kita mah paling pol masih berharap masuk surga. Sementara bagi orang yang sudah tinggi level ikhlasnya malah gak berharap apa-apa. Orang-orang dengan label Ikhlasul Arifin ini menilai semua yang ia lakukan adalah peran Tuhan. Bernafas juga dari Tuhan, bisa gerak juga dari Tuhan, punya ide dan inisiatif juga dari Tuhan, sehingga mereka ini malu kalo berharap macam-macam. Lha terus sebenarnya berharap surga itu boleh gak? Ya boleh aja. Yang gak boleh itu kalo situ makelarin surga buat cari dukungan partai. Apalagi nglarang-nglarang orang masuk surga. Situ siapa?
Mencapai ikhlas memang sulit. Apalagi di sekolahan dan pasar kita sudah dididik untuk lebih mengutamakan untung-rugi daripada apapun. Yah memang kita punya bakat makelar kyaknya. Lalu bagaimana caranya menanam dan memupuk rasa ikhlas dalam hati?. Sebuah perbuatan biasanya tergantung dengan kondisi jiwa, sedang kondisi jiwa tergantung situasi yang ada. Misal kita lagi nonton TV ini ya, terus sinetronnya sedih abis, kan kita juga ikut sedih. Lalu sambil bersedih gitu coba sambil ngobrol, pasti obrolannya gak kalah sedih. Mendadak jadi bijak setengah mimblik-mimblik gitu. Begitupun dengan bekerja maupun beribadah. Kalo kondisi hati sedang gegana gitu, apapun yang kita lakukan jadi ter-geganakan-kan juga. hehe
Maka dari itu mari jaga hati agar senantiasa bahagia. Jadi kita bisa menikmati apapun yang kita lakukan. Menikmati ibadah itu sulit lho. Apalagi ikhlas. Wong senang aja enggak kok suruh ikhlas. Oleh karena itu, beribadah dalam suka cita menjadi penting. Maka tidak heran jika setiap orang punya cara berbeda membimbing nuansa ruhaninya menuju kondisi terbaik untuk menerima cahaya ilahi. Ada yang sambil gitaran, ada yang sampai jidatnya bercahaya, ada yang sambil nangis. Ya terserah. Karena Tuhan memberikan sejuta jalan amal menuju rahmatNya (selain ibadah wajib lho ya). Kita tinggal ambil jalan yang paling kita sukai, maka ikhlas pun mudah kita jumpai.
Manakala saat itu terjadi. Saat sukacita mewarnai jalan menujuNya, maka disanalah cakrawala pembebasan kan terbuka. Ketika kita bebas dari harapan kosong, kebencian, curiga, sedih, yang ada hanya sukacita bersamaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar