Rabu, 31 Oktober 2018

Sebuah Analisis Budaya

Islam di Indonesia (mulai zaman Nusantara hingga Indonesia) secara garis besar mengalami tiga babak perkembangan hingga saat ini. Termasuk di dalamnya praktik dan pola pikir masyarakat muslim juga ikut berubah.

Pertama, di era para wali, islam bersinggungan erat dengan tradisi-budaya jawa yang masih bernuansa hindu-budha sehingga akulturasi terjadi. Pada babak pertama ini muslim nusantara sangat percaya diri dalam berislam, sehingga berani menyerap tradisi tanpa takut kehilangan keislamannya.

Kedua, pada saat era Diponegoro, terjadilah masalah antara kraton san dunia pesantren sehingga pesantren menjaga jarak dengan kraton. Selain menjauh dari wilayah kraton, pesantren juga membangun pola pikir yang berbeda dengan kraton. Efek dari sikap tersebut mengakibatkan pesantren menjadi ekslusif, berjarak dengan masyarakat, serta mulai menolak warisan kraton. Wayang pun keluar dari lingkungan santri. Periode ini melahirkan NU dan Muhammadiyah.

Ketiga, di era 1980an, di saat kraton lebih menonjol dalam pelestarian budaya dan pesantren lebih eksklusif dalam mempelajari agama, ada masyarakat mulai kehilangan citarasa islam. Tidak semua masyarakat mampu menerima pengejawantahan islam melalui lagu dan wayang, juga tidak semua masyarakat mendapatkan pendidikan di pesantren. Sehingga dalam keringnya citarasa islam ini masyarakat mulai menerima islam transnasional sebagai cara berislam yang baru.

Melihat paparan di atas, dapat dimengerti bagaimana keadaan dan psikologi masyarakat muslim di Indonesia saat ini. Perbedaan jelas terjadi, selain bicara madzhab, pemikiran yang lahir dari tiga periode di atas juga menambah banyaknya sudut pandang dalam melaksanakan kehidupan islam di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengam umat muslim terbesar di dunia dalam hal jumlah. Setiap tahunnya lebih dari 50.000 santri yang lulus dari pesantren. Tentu setelah lulus, tidak semua santri ini menemukan kehidupan yang seperti pesantren. Kehidupan yang berjarak dari tradisi nusantara, juga berjarak dari islam transnasional. Sehingga kebingungan yang dialami alumni pesantren tersebut membawanya kepada pilihan untuk bertahan di islam-tardisi atau islam transnasional.

Sementara itu, masyarakat yang didukung arus informasi cepat melalui internet juga mengalami goncangan. Pada umumnya, islam trans nasional seperti Hizbut Tahrir, Ihwanul Muslimin, Wahabi, dan sejenisnya hanya berkembang di wilayah universitas dan kota saja. Karena itu alumni timur tengah (yang tidak sempat mengenal tradis) lebih nyaman menyebarkan faham ini di ruang tersebut. Pelebaran faham ini melaui internet sekarang sudah merambah ke desa-desa. Desa yang dulunya dekat dengan tradisi (warisan islam kraton) dan masih menjalankan budaya sekarang mulai meninggalkan budaya tersebut karena difahami debagai bid'ah, bahkan dekat dengan kemusyrikan.

Pada saat masyarakat desa mulai retak karena benturan tradisi dan arabisme (islam trans nasional) pesantren justru semakin menutup diri dari masyarakat. Para santri bahkan tidak bisa menggunakan tehnologi komunikasi karena pesantren hawatir akan fokus yang terganggu atau pengaruh dunia luar yang berbahaya. Hal ini tentu baik dalam menjaga ideologi santri agar tetap berpegang teguh pada ideologi pesantren. Pertanyaannya : sampai kapan?

Santri adalah anak zaman, ia lahir dari sebuah lingkungan dan akan kembali ke lingkungan asalnya. Pesantren boleh menanam harapan agar para santri membawa dan menularkan faham pesantren ke masyarakat. Namun pesantren juga harus sadar bahwa hanya sebagian santri yang masih punya kewarasan untuk bertahan dari benturan dual ideologi di atas, bahkan tidak sedikit yang ahirnya meninggalkan kebanggaannya sebagai santri dan tidak mau tahu soal kehidupan Islam. Sing penting urip !!!

Fenomena Santri Online

Persoalan banting setirnya santri di atas tentu bukan bagian dari kesalahan pesantren. Karena di era serba "post" ini tidak ada satupun struktur yang siap menaungi perkembangan kesadaran masyarakat. Begitu juga kraton, di era informasi ini gagal menyebarluaskan nilai tradisi dengan cara yang holistik. Penyebaran nilai tradisi warisan walisongo, meski sifatnya terbuka, namun hanya bisa dikonsumsi oleh masyarakat sekitar kraton. Mengapa? Karena penyebarannya juga tradisional, dari forum ke forum kecil saja. Sehingga acara gelar tradisi hari ini mulai kehilangan nilai edukasi dan syi'arnya, digantikan oleh nilai wisata dan komoditas.

Pesantren yang tertutup serta kraton yang gagal menyebarkan nilai tersebut membuat kekosongan nilai ruhani masyarakat diisi islam transnasional. Lalu karena penggerak dari islam transnasional ini mayoritas adalah intelektual, maka konten yang menarik serta manajemen yang baik membuat masyarakat mudah menerimanya. Cukup duduk di depan laptop saja, maka semua kebutuhan nilai ruhani masyarakat akan terpenuhi mulai dari fiqih keseharian hingga ajaran praktik berpolitik "yang islami". Pada titik inilah santri online berkembang pesat. Terlebih lagi "konflik perbedaan hari raya" NU dan Muhammadiyah cukup membuat masyarakat bingung dan jenuh. Ahirnya masyarakat memilih "islam saja" tidak pakai NU dan Muhammadiyah.

Ironisnya, alih-alih menjauh dari dua arus besar tadi, justru masyarakat terjun ke arus yang lebih besar. Arus yang meniup masalah sekecil apapun, jika ada nama "islam-nya" akan mejadi goncangan Nasional. Sangat disayangkan, masyarakat sendiri tidak tahu arus apa yang sedang mereka hadapi. Tidak tahu-menahu agenda apa dibalik semua kegaduhan ini. Juga tidak tahu sepanas apa musim semi yang kan hadir di esok hari.

M. Alwi