Rabu, 18 Oktober 2017

CAKRAWALA PEMBEBASAN

Nyawa dari sebuah hubungan yang harmonis adalah ketika take and give nya seimbang. Entah itu hubungan induk dan anak, pertemanan, hingga bisnis. Jadi bagi siapapun yang menguasai rumus keseimbangan take and give ini sepertinya tidak akan mengalami kesulitan dalam harmonisasi hubungan. Tapi bagaimana cara mengukur keseimbangan take and give ini? Bukankah manusia secara alami lebih jelas melihat semut di ujung samodra daripada gajah di pelupuk mata?

Nah ini masalahnya. Kadang perhatian yang begitu besar diterima sebagai kepedulian yang kecil. Mirip cara kita memandang kasih ibu yang sepanjang masa itu, berapa kali kita berucap terimakasih? Pernahkan kita membalas?. Sementara segelas kopi di pagi hari dari sang pacar terasa lebih baik dari dunia dan seisinya. Rusaknya nilai tawar ini adalah karena absennya rasa ikhlas dalam dunia "take & give". Karena dalam memberi dan menerima, ruhnya adalah ikhlas.

Lebih jauh lagi, selain take & give kita juga membutuhkan ikhlas sebagai nyawa dari setiap perbuatan. Hal ini mampu menjauhkan kita dari angan-angan jangka panjang. Misalnya, ngasih orang roti tapi mengharap ada yang nyooting dan masuk TV. Kan mbelgedez itu namanya. Kita bisa terjebak harapan palsu nan berkepanjangan. Mirip ABG yang galau lantaran gagal cari perhatian.

Ikhlas pada berbagai situasi menjadi kunci penting agar hati bisa semeleh dan damai. Ikhlas level kita mah paling pol masih berharap masuk surga. Sementara bagi orang yang sudah tinggi level ikhlasnya malah gak berharap apa-apa. Orang-orang dengan label Ikhlasul Arifin ini menilai semua yang ia lakukan adalah peran Tuhan. Bernafas juga dari Tuhan, bisa gerak juga dari Tuhan, punya ide dan inisiatif juga dari Tuhan, sehingga mereka ini malu kalo berharap macam-macam. Lha terus sebenarnya berharap surga itu boleh gak? Ya boleh aja. Yang gak boleh itu kalo situ makelarin surga buat cari dukungan partai. Apalagi nglarang-nglarang orang masuk surga. Situ siapa?

Mencapai ikhlas memang sulit. Apalagi di sekolahan dan pasar kita sudah dididik untuk lebih mengutamakan untung-rugi daripada apapun. Yah memang kita punya bakat makelar kyaknya. Lalu bagaimana caranya menanam dan memupuk rasa ikhlas dalam hati?. Sebuah perbuatan biasanya tergantung dengan kondisi jiwa, sedang kondisi jiwa tergantung situasi yang ada. Misal kita lagi nonton TV ini ya, terus sinetronnya sedih abis, kan kita juga ikut sedih. Lalu sambil bersedih gitu coba sambil ngobrol, pasti obrolannya gak kalah sedih. Mendadak jadi bijak setengah mimblik-mimblik gitu. Begitupun dengan bekerja maupun beribadah. Kalo kondisi hati sedang gegana gitu, apapun yang kita lakukan jadi ter-geganakan-kan juga. hehe

Maka dari itu mari jaga hati agar senantiasa bahagia. Jadi kita bisa menikmati apapun yang kita lakukan. Menikmati ibadah itu sulit lho. Apalagi ikhlas. Wong senang aja enggak kok suruh ikhlas. Oleh karena itu, beribadah dalam suka cita menjadi penting. Maka tidak heran jika setiap orang punya cara berbeda membimbing nuansa ruhaninya menuju kondisi terbaik untuk menerima cahaya ilahi. Ada yang sambil gitaran, ada yang sampai jidatnya bercahaya, ada yang sambil nangis. Ya terserah. Karena Tuhan memberikan sejuta jalan amal menuju rahmatNya (selain ibadah wajib lho ya). Kita tinggal ambil jalan yang paling kita sukai, maka ikhlas pun mudah kita jumpai.

Manakala saat itu terjadi. Saat sukacita mewarnai jalan menujuNya, maka disanalah cakrawala pembebasan kan terbuka. Ketika kita bebas dari harapan kosong, kebencian, curiga, sedih, yang ada hanya sukacita bersamaNya.

Senin, 16 Oktober 2017

NDESO !!!

Lokalitas dan Kebebasan

Spirit lokalitas agaknya masih digadang sebagai tonggak awal di milenium ketiga ini. Hali ini didukung oleh banyaknya putra desa yang terbekali wawasan intelektual lewat akademik maupun pergaulan. Seperti kita saksikan belakangan ini kata "ndeso" mulai jadi buah bibir kala sang putra presiden tersandung kasus penodaan agama lewat video youtubenya.

Istilah "ndeso" acap kali terdengar sebagai kata umpatan akrab di daerah berkembang. Di telinga saya sendiri, kata "ndeso" tidak lebih pahit dibanding kata "celeng" atau "asu". Mirip mirip "jancuk" lah. Toh baik wong magelang, solo, mupun jogja terbiasa memanggil teman akrabnya dengan sebutan "ndes" yang berasal dari kata "ndeso".

"Pie ndes kabare? Apik to?
Hampir sama dengan
"Pie Cuk kabare? Apik to?"

Biasa saja, di tempat saya tidak ada orang tersinggung dengan kalimat tersebut. Lantas mengapa ketika Kaesang yang mengeluarkan diksi tersebut mendadak jadi hits?

Bisa jadi karena nuansa keakraban saya dan kawan2 ndeso saya tingkatannya sudah adiluhung. Ndak penting lagi perkataan, kami lebih menghargai senyuman dan sikap sosial. Disanalah perbedaan pergaulan nyata dan pergaulan netizen. Dalam komunikasi virtual macam youtube dan fb tidak ada yang bisa mengukur tingkat emosi seseorang. Padahal sudah ada fasilitas Emoticon untuk melengkapi celah ini. Tetap saja setiap kata bisa menjadi sensitif tergantung panjang dan pendeknya sumbu audiens nya.

Jika kita melihat viralnya kata Ndeso ini lewat pendekatan konflik, tentu akan menjadi rumit. Lebih lebih posisi Kaesang sebagai putra presiden lebih kuat imejnya daripada seorang youtuber. Jadi muatan emosi yang dibawanya tidak lagi dinilai sebagai sebuah karya, melainkan ekspresi politik.

Di sisi lain, akan menarik jika kita mencoba menelaah peristiwa ini melalui pendekatan fenomenologi. Jadi, kita tidak harus memusingkan diri atas golongan pro dan kontra, untung dan rugi. Ada lokalitas yang mau tidak mau harus diperhatikan. Seperti halnya Novel Genduk karya Sundari yang masuk di sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award tahun lalu, ada semacam kesepian akan bahasa lokal dari samudra sastra kita. Setelah Bumi Manusia, Ronggeng Dukuh Paruk, mana lagi karya sastra yang bermuatan bahasa lokal? Sedikit.

Lalu apa hubungannya?

Diksi "ndeso" dan diksi lokal sejawatnya, saya kira bisa menjadi tangga bagi masyarakat (khusunya netizen) untuk kembali mengapresiasi bahasa lokal dan konteks yang dibawakan. Bukan lagi waktunya mengekor barat atau tesihir trend mainstream yang disajikan televisi. Sehingga munculnya bahasa lokal bisa diparesiasi dengan baik. Tidak hanya diksi "ndeso" saja yang sedang naik daun, bahasa osing lewat langu "kanggo riko" dan bahasa jalanan NDX juga tangga lokalitas yang butuh perhatian. Terlepas dari kualitas musiknya, grup musik dengan bahasa lokal diterima dengan baik oleh masyarakat.

Lalu, Tentang kesadaran dan sikap politik yang mulai bangun dari berbagai komunitas, saya setuju dengan pendekatan Bambang Sugiharto. Beliau memaparkan bahwa adanya sikap politik yang tumbuh dari kantong komunitas adalah buah kesadaran, bahwa hari ini sudah banyak masyarakat dengan filter tinggi dalam menerima informasi. Tidak mudah digiring kesana kemari. Tapi masalah intinya, dengan adanya kesadaran tersebut adalah pola struktural yang belum memadahi.

Banyak orang bilang, hari ini negara masih gagap menghadapi kebebasan berekspresi. Mana yang karya, mana yang merupakan sikap politik, semakin tipis bedanya. Pun keduanya punya dampak nyata. Maka wajar jika masyarakat masih kesulitan memahami diksi "kondisi genting" dalam konteks bernegara. Ya jelas, negara kan pola praktiknya general, beda dengan komunitas yang berpola khas nan lokal dalam berpikir maupun bertindak.

Babak selanjutnya, manakala sikap "general" pemerintah malah justru terkesan otoriter dan menabrak HAM, diksi "kebebasan berekspresi" menjadi suara baru dari beberapa kubu yang dirugikan. Nampaknya ada yang lupa dengan peristiwa pembubaran pameran tahun lalu. Kala kebebasan berekspresi digilas oleh "etika general" dengan isu "kiri".

Ekspresi macam apa itu? Benar benar ndak ada khas nya sama sekali.

Yo ra Ndes?

SAMPAH VISUAL

"Imagination life in your creation"
-Aqua-

Imajinasi, seperti halnya tanaman. Butuh dipupuk untuk tetap tumbuh. Maka tidak heran jika imajinasi bisa layu, bahkan mati jika kita tidak mengasahnya lewat kreasi nyata.

Imajinasi, adalah sekumpulan imej (gambar) yang menjadi perbendaharaan dalam penyusunan konsep pemikiran. Ibarat konsep adalah rumus dengan aksen X, Y, dan Z, imajinasi seperti angka angka yang siap menggantikannya.

Semasa sekolah dasar hingga SMA, kita tentu akrab dengan rumus rumus seperti Aljabar, Sincostan, dll. Masih ingatkah kita? Saya sendiri lupa. Karena imajinasi saya selalu gagal mengisi rumus tersebut dengan aksen persoalan nyata.

Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa tiap hari kita menelan setidaknya 100 benda baru dan berbeda, baik lewat aktivitas nyata maupun ketika berselancar di internet. Lalu dimana benda benda tersebut? Mengapa kita tak kunjung kreatif?

Nampaknya benda-benda itu hanya mangkrak sebagai sampah visual di pikiran. Nyaris tak tersentuh rumus. Imajinasi yang terselenggara pun, bukan upaya penyusunan imej, melainkan konsep-konsep buta saja.

Seperti ketika kita melihat potret pengemis, atau antrean panjang di rumah sakit. Apa yang ada di pikiran kita? Adakah sampah visual di otak kita bisa tersusun dan menjelma solusi atas kenyataan tersebut? Tidak. Justru kita lupa bahwa raut wajah lapar pengemis dan menguapnya harapan dari pasien RS adalah sebuah masalah. Ahirnya, kembali kita konsumsi potret tak menyenangkan trsebut sebagai imej semata.

Bukankah kita mirip dengan mereka yang selalu kurang dengan gaji halalnya? Jangan-jangan mental koruptor adalah milik kita bersama.

Lalu kegilaan akan konsep-konsep ini semakin parah karena semangat zaman pun mengamininya. "Selamat datang di hari hari yang konseptual". Begitu kata para pakar. Hari dimana kesadaran akan saham kehidupan membuncah, membadai, menyambar pikiran. Entah petani, entah profesor, sekarang nampak sama pintarnya. Bahkan semua orang punya konsep hidup ideal, negara ideal, sistem ideal.

Oke jika semua berkonsep ria, kenyataan milik siapa? Apa rasa lapar butuh konsep?

Beberapa bulan lampau, ada seorang kawan yang memiliki masalah keluarga. Yang satu taat agama, yang satunya taat logika. Peranglah konsep disana, padahal sejatinya asal sama-sama terpenuhi standar hidupnya semua bakal lupa soal konsep. Mirip konflik horizontal di negara ini, ngomongnya saja konflik ideologi, padahal rebutan kapling.

Bukankah begitu sifat kita? Waktu lapar dan kenyang pasti beda tema pembicaraannya.

Imajinasi, hendaknya menyusun imej dan konsep menjadi satu kreatifitas nyata. Hingga bisa dinikmati sebagai keindahan ekspesi. Bukan lempar konsep sembunyi tangan. Karena yang dekat di gaji seharusnya juga dekat di hati.

FUNGSI TELESKOP

Dewasa ini kita melihat adanya agama yang mulai kehilangan keyakinan. Seperti indahnya air yang bercampur warna, namun tak bisa diminum.

Juga banyak keyakinan yang tumbuh liar tanpa agama. Seperti air jernih, namun tak suci.

Keduanya tak layak saling menyalahkan. Bagi mereka yang berpedoman pada kemanusiaan, kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian menjadi kitab sucinya. Maka tidak heran jika jenis ini risih melihat visual agamis yang egois. Gagal menemukan kemanusiaan. Mengapa di negri yang katanya banyak orang miskin justru paling banyak ngantri terbang ke tanah suci?

Juga sebaliknya, kemanusiaan yang terlalu disucikan berpotensi membawa manusia ke jurang hasrat. Maka tidak heran jika kaum agamis juga risih dengan kemanusiaan yang makin lama makin mirip hewan.
Mengapa di negara yang hingar memperingati hari Kartini dan sangat menghargai kehormatan wanita, justru menjadi pasar potensial dengan seksualitas sebagai ikon nya?
Iklan sebelah mana yang tidak mempertontonkan kecantikan dan keseksian?

Masih ingat dengan viralnya hastag "hari patah hati nasional" ketika netizen jomblo kecewa dengan Raisa yang tunangan?. Lalu tak lama sesudahnya, muncul hastag "hari patah hati dunia ahirat" yang dipopulerkan fangirl syariah mengiringi nikahnya Muzammil?

Bagiku, keduanya sama-sama gagal menunjukkan sisi kedewasaan dalam menyikapi persoalan.

Kemanusiaan, keyakinan, dan agama, selanjutnya akan menjadi persoalan bersama. Mari kita lihat adik-adik kita, sesekali harus kita ajak bermain teleskop. Lalu coba tanyakan pada mereka, "apa yang akan kau teropong?". Kesucian kawan wanita mu, atau planet yang mungkin kita huni ketika bumi mati?

Aku, Kamu, dan sebuah pesan

Telah tiba hari hari yang membosankan. Siang yang begitu kosong, tubuh yang enggan berdiri, menjebakku dalam candu cerita. Tak ada yang menarik selain membuka cerita fiksi dan hanyut di dalam diksi. Merasa menjadi pejuang gagah berani, sementara yang bergerak hanya mata dan jemari.

Di belahan dunia yang berbeda, kau mungkin juga sedang dihujam bosan. Ada penantian yang tak kunjung terbayar, ada kebingungan memecah kesendirian. Di tempat yang asing, kau mencoba berdiri.

Hingga kita dan kebosanan terpisah oleh kata-kata. Kata yang tak terucap namun mengantarkan kita pada pertemuan nyata. Hari ini, adalah kali pertama segudang pesan mengantar kedua tuannya bersua. Maaf aku terlambat datang.

Dari balik keramaian kau datang. Dengan tatap mata yang polos namun menabur aroma penasaran. Celakanya, aku tak begitu mengerti bahasa mata. Lalu kira lari dari satu keramaian ke keramaian lainnya. Dan hujan pun turut hadir di antara kita.

Di tengah sesak dan hujan, tidak tersisa tempat duduk yg nyaman. Namun tampaknya kau tidak peduli hal itu, kau nampak sedang berburu sesuatu. Kau diam tapi bukan pemalu. Apa yang kau buru? Tanyaku. Puluhan kilo kau tempuh hanya untuk sepotong kata. "Apa kau berhasil mendapatkannya?". Untungnya kali ini bukan matamu yang bicara, senyum itu sudah menjelaskan semuanya.

Matahari mulai padam. Kau pun harus kembali, menempuh jalan panjang sendirian. Sementara aku tak punya banyak kata untuk disampaikan. Pertemuan yang singkat. Semoga selamat sampai tujuan. Aku percaya, dengan rasa penasaranmu itu akan banyak hal baik kan kau temukan. Jika kau tidak percaya kata-kata ku, cukup percayai rasa ingin tahumu.

MODERAT

Sikap seorang Moderat

Sore ini alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri sebuah diskusi tentang pemikiran Gus Dur yang digawangi oleh komunitas gusdurian. Lebih fokusnya mengacu pada statement Gus Dur yang berbunyi "Tuhan tidak perlu dibela"

Sayang sekali sore tadi kedatangan saya terlambat dan hanya mnangkap babak akhir dari perhelatan diskusi tersebut. Jadi, sebagai upaya saya untuk syukur nikmat atas perjumpaan yang mulia tersebut, saya ingin menulis sedikit dari sedikit hal yang saya peroleh.

Apa itu moderat ?

Secara sederhana moderat dipahami sebagai umat yang berada di tengah. Tidak kiri, tidak juga kanan. Dalam istilah arab sering disebut "ummatan wasathon". Maka golongan Moderat memiliki arti sebagai penengah atau penyeimbang. Tentu pada sebuah pemerintahan adanya "kiri" dan "kanan" tidak bisa terhindarkan, pada satu kondisi bisa berat ke kanan, pada kondisi lain berat ke kiri. Ketika kekuasaan kanan dan kiri seimbang tidak masalah, namun jika kekuasaan jatuh ke kiri ekstrim atau kanan ekstrim, pada saat itu juga kondisi menjadi tidak stabil, bisa dikatakan berbahaya. Melihat keadaan tersebut, maka menjadi Moderat adalah sebuah pilihan.

Bagaimana Tugas Moderat ?

Ada banyak hal yang berlawanan. Air dan minyak. Kanan dan kiri. Mainstream dan anti maintream. Segala hal yang berlawanan pada dasarnya saling terhubung dan memengaruhi. Bahkan seringkali justru yang berseberangan tersebut mampu menjadi pasangan yang hebat. Dampak negatifnya ketika dua kubu berseberangan itu bertemu pada kondisi yang tidak tepat, justru yang terjadi adalah benturan. Maka dengan adanya moderat, diharapkan menjadi mediator agar adanya perbedaan bukan menjadi alasan perpecahan, melainkan berkah dan kekayaan.

Guna memenuhi tugas tersebut, moderat juga diharuskan memiliki eksistensi di tengah masyarakat. Memiliki kekuatan untuk bertahan. Memiliki kecakapan dalam menyikapi perubahan. Dalam memenuhi hal tersebut, golongan Moderat yang selama ini bergerak apa adanya dan mulai melemah dengan munculnya golongan ekstirm yang kuat, dibutuhkan sikap anti kemapanan agar mendapat perhatian dari masyarakat.

Bagaimana jika ekstrim terlalu kuat?

Ada kalanya sebuah arena dialektika menjadi ruang doktrin dikarenakan superioritas yang tak tergoyahkan dari satu kubu. Bahkan jika di kampus yang notabene adalah ruang dialektika terbuka bagi mahasiswa dan pengajar, bisa jadi kini beralih fungsi menjadi pabrik sarjana saja. Mengapa bisa begitu? Karena kurikulum yang seharusnya bersikap moderat, lentur, dan menjadi rule yang solid bagi dialektika kini melemah. Gagal mewadahi hak-hak dialektis. Kurikulum bukan lagi hukum suci, melainkan alat gebug bagi superioritas. Jika hal ini benar terjadi,  maka sebuah perguruan tinggi butuh kurikulum baru. Sebuah pemerintahan butuh aturan politik baru. Sebuah pertandingan, butuh arena baru lengkap dengan koridor dan seperangkat aturan. Menjadi moderat bukan lantas menjadi bijaksana saja tanpa menjaga sistem yang ada. Moderat haruslah menguasai medan tempur, namun tidak boleh ikut menjarah kemenangan.

Kesimpulan.

Begitulah pemikiran moderat yang diajarkan Gus Dur. Para moderat muda sebagai agen perubahan seyogyanya betul-betul memahami persoalan dan koridornya. Agar moderat tidak dijadikan kendaraan bagi kanan maupun kiri. "Tuhan tidak butuh dibela, tapi juga tidak menolak dibela". Membela atau tidak membela Tuhan adalah hak setiap manusia. Tapi menjaga ke-eka-an dalam bhinneka adalah tugas bersama.

TITIPAN ITU BERNAMA "CINTA"

Suatu malam pada saat Ngasah Jiwo berlangsung

Seorang jama'ah bertanya : "jika tubuh dan segala harta benda kita adalah titipan Tuhan yang harus kita kembalikan pada Tuhan, maka bagaimana dengan CINTA ? Bagaimana cara kita mengembalikan cinta kepadaNya?"

Lalu guru kami menjawab :

"Sebagaimana harta dan jiwa raga, cinta juga titipan. Sebelum kita mengembalikan maka baiknya kita rawat. Kita tempatkan cinta di hati yang bersih, agar cinta tidak ternodai nafsu. Suatu ketika, Tuhan pasti akan mengambil Cinta mu, juga apa yang kamu cintai. Maka selama itu, bersihkanlah hatimu. Kembalikan cinta secara utuh seperti sediakala".

SEBUAH PERKENALAN

Catatan Ngaji Hikam
11 oktober '17
Oleh: M Alwi Assagaf

"CARA TUHAN MEMPERKENALKAN DIRI"

Apabila tuhan membukakan bagimu jalan untuk makrifat, maka jangan Hiraukan tentang amalmu yang masih sedikit karena Allah s.w.t tidak Membuka jalan tadi melainkan dia berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada kamu.

(Kitab AlHikam, Ibn 'Ataillah)

Banyak cara Tuhan memperkenalkan dirinya pada hambanya. Dalam buku History of God, Karen menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia mengenal tuhan tergantung bagaimana cara Tuhan mengenalkan dirinya. Kita akan menemui Tuhan Musa yang kejam, Tuhan Daud yang bijaksana, dan Tuhan Muhammad yang begitu senang mengajak hambanya berdialog, ditandai dengan banyaknya ayat yang diakhiri kalimat "apakah kamu tidak berpikir?" Dalam Al Qur'an. Melihat cara manusia mengenal Tuhan dari waktu ke waktu, tidak menutup kemungkinan yang manusia sebut Tuhan dengan berbagai nama itu adalah Tuhan yang sama.

Dalam mengenalkan dirinya, Tuhan memilih umatnya secara random. Tidak memandang jumlah amal. Maka kita tidak perlu hawatir akan sedikitnya amal. Bisa jadi tuhan hadir pada saat kita sakit atau bahkan saat kita melakukan maksiat.

Alkisah, ada seorang guru yang berziarah bersama para muridnya. Sang guru tidak menjelaskan makam siapa yang beliau ziarahi ini. Lalu salah seorang murid bertanya "wahai guru, makam siapakah yang kita ziarahi ini?". Sang guru menjawab "ini makam guruku". "Berarti beliau juga guru kami?" Timpal muridnya. "Bukan, beliau ini guruku saja, bukan guru kalian". Mendengar pernyataan guru tersebut, sang murid makinn penasaran.

Lalu sang guru bercerita "Beliau ini adalah orang biasa. Tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya beliau pernah mengejarku dengan parang sehingga aku begitu takut. Lalu aku bersembunyi di masjid. Sejak saat itu entah mengapa aku selalu rindu dan merasa tenang di dalam masjid. Lewat guruku ini Tuhan untuk pertama kalinya hadir padaku. Aku tidak bisa melupakan jasa besarnya".

Tuhan senantiasa membuka pintu untuk hambaNya. Jumlah pintu tersebut sebanyak jumlah umatnya. Setiap manusia mengenal dan diperkenalkan oleh Tuhan dengan cara yang berbeda. Maka tidak heran jika manusia mengenal Tuhan dengan cara dan nama yang berbeda.

LOGIKA JANJI

Catatan Ngaji Hikam
11 oktober '17
Oleh: M Alwi Assagaf

"Janji Allah"

"Berdoalah padaKu, niscahya akan Aku kabulkan"

Kalimat di atas adalah perintah Allah yang masyhur di kalangan umat islam. Juga merupakan dalil yang kuat untuk perkara doa. Ibnu Athaillah dalam Al Hikam berkata:

Jangan sampai meragukan kamu terhadap janji allah karena tidak Terlaksana apa yang telah dijanjikan, meskipun telah tertentu (tiba) Masanya, supaya keraguan itu tidak merusakkan mata hati kamu dan tidak Memadamkan cahaya sir (rahasia atau batin) kamu.

Pada saat seseorang berdoa tentu terjadi sebuah fenomena "menagih janji Allah" dalam bentuk harapan akan dikabulkan doanya. Namun jika ternyata janji Allah tak kunjung tiba masanya, maka janganlah itu membuat kita ragu. Karena Allah memiliki sifat "Laa yukhliful mi'ad", yang artinya Maha menepati janji.

Bahkan kepada Rosulullah pada saat perjanjian Hudaibiah, kemenangan umat islam yang dijanjikan berupa penaklukan makkah terjadi satu tahun lebih lama dari apa yang telah dijanjikan. Harusnya kita sadar bahwa kita tiadalah sebanding dengan Rosulullah, maka wajar jika segenap kekurangan dan dosa kita menutupi janji Allah.

Begitulah tata krama seorang hamba kepada Tuhannya. Yaitu dengan berbaik sangka dengan apapun keputusan Allah. Karena keraguan kita justru akan mengotori hati kita. Menjauhkan kita dari Allah.

"Janganlah karena kelambatan masa pemberian tuhan kepada kamu, padahal Kamu telah bersungguh-sungguh berdoa, membuat kamu berputus asa, sebab Allah menjamin untuk menerima semua doa, menurut apa yang dipilih-nya Untuk kamu, tidak menurut kehendak kamu, dan pada waktu yang ditentukannya, Tidak pada waktu yang kamu tentukan."

Al Hikam

MENYIKAPI PERPECAHAN

Pada suatu malam, terjadilah percakapan Kakak bijak dan Dedek mmeshh tentang persatuan.

D : Kak, aku mau tanya dong.
K : Apa yang bisa kujawab untukmu Dek?
D : Apa bener sih kak kalo pada ahir zaman nanti umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan?
K : iya benar itu dek. Memangnya kenapa?
D : duhh kok jadi sedih rasanya. lalu dedek harus ngapain ya kak?
K : dedek harus bersyukur karena di Indonesia ini umat islam baru terpecah jadi dua golongan saja.
D : masa' sih kak? Dedek kira udah banyak golongan lho di Indonesia.
K : seriusan. Hanya ada 2 golongan di Indonesia kita ini. Yaitu islam yang pro Jokowi dan anti Jokowi.

Diilhami dari kisah nyata :)

TIGA AGAMA

Keberadaan atas sesuatu, setidaknya membutuhkan 3 hal sebagai pendukungnya. Politik, teori, atau penerimaan masyarakat. Politik mampu membentuk kebohongan menjadi kenyataan melalui media. Sementara teori mampu menjadikan yang tak berpola menjadi sesuatu yang diterima akal sehat meskipun belum terbukti benar adanya. Sementara penerimaan masyarakat mampu menciptakan kearifan bahkan untuk sesuatu yang tidak masuk akal.

Setidaknya itulah pola pikir kuat yang ditawarkan Elizabeth Hurd dalam melihat konflik "atas nama agama" yang belakangan ini terjadi. Hurd memberikan pandangan yang jeli menyikapi "kebenaran" yang hari ini menjadi topeng kepentingan. Baginya, UU kebeasan berkeyakinan dan beragama (KBB) tidak lagi kuat menghadapi konflik keyakinan internasional hari ini. Adanya KBB yang dalam politik misalnya justru memperumit konflik karena agama politik mayoritas ahirnya justru menjadikan KBB sebagai alat untuk justifikasi "mana yang layak disebut agama dan mana yang bukan". KBB di tangan intelektual juga memperumit agama sebagai definisi-definisi semata. Gagal dalam memperkenalkan identitas kemuliaan agama itu sendiri.

Sementara KBB dalam masyarakat justru berjalan baik karena masyarakat tidak butuh definisi dan legitimasi. Cukup dilakukan. Asalkan baik bagi sesama, maka itulah agama. Pernahkan kita berfikir mengapa umat agama A dan B atau golongan A dan B di satu tempat rukun sementara di tempat lain malah bertengkar? Dalam hal ini, Hurd mengidentifikasi adanya penyempitan analisis sehingga masyarakat justru ikut-ikutan menjadi akademisi yang ribet bicara definisi. Lainnya berlagak politis dengan argumen regulatif. Lebih layak disebut konflik kepentingan daripada konflik agama.

Rekan mahasiswa yang budiman, marilah kembali kita sadari agama sebagai bentuk "way of live" dan mencoba lebih kritis dalam menerima berita. Memang pendidikan mengharuskan kita untuk bongkar pasang definisi. Namun tanpa melalui tahapan observasi yang panjang, asumsi prematur yang kita keluarkan justru akan memperkeruh keadaan. Hati hati saat nge-share berita atau argumen, tidak ada buruknya membagikan sesuatu yang bermanfaat, namun bermanfaat bagi kita belum tentu bermanfaat bagi yang lain. Ibarat bayi yang bisa keracunan micin atau anjing yang bisa mati jika kebanyakan makan coklat.

Semoga bermanfaat. :)

PRIA MENJAWAB

Girl

Bekerja tidak harus di pabrik atau jadi PNS. masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Kamu bisa tetap jadi ibu tanpa membuang keahlianmu.

Bekerja juga bukan tentang banyaknya uang saja. Tapi kepuasan bathin kepada sebuah kontribusi.

Menjadi penurut, tidak lantas membuat kamu bergantung pada orang lain. Apa yang diperintahkan dan apa yang tidak dilarang itu berbeda.

Menjadi pemberani juga bukan lantas menjadikanmu keras kepala. Keberanian ada untuk melawan rasa takut, bukan melawan ketentuan yang ada.

Menjadi cantik juga bukan melulu tentang harga kosmetik. Dalam tutur lembut dan perangai anggun juga ada cantikmu.

Menjadi hebat juga tidak harus menjadi tak terkalahkan. Hebat dalam memahami, hebat dalam diplomasi, hebat dalam membaca situasi, adalah kehebatan tanpa menang-kalah.

SEBUAH DOA

(Fermentasi lagu Permintaan Hati – Letto)

Terbuai aku dalam hingar kesenangan sesaat
Hingga ku hilang kesadaran
Terjatuh aku dalam tawa kosong tanpa makna
Keindahan yang hanya melintas singkat di jurang penantian
Terucap keraguan akan damai yang hadir
Tetes sejuk itu tak sembuhkan hati yang bimbang
Yang tehalang oleh curiga dan kematian asa
Akan  kepastian cinta

Aku hilang... yaa Rabb
aku hilang... tanpaMu

Lalu telah Tersabut kabut kecemasan
Memberi hasrat menikmati malam
Terbias satu detik nan tenang di pintu harapan
Yang tersimpan namun amat sulit ku temukan
Begitu sejuk namun tak bertuan
Kini kian terasa kerinduan akan hadirMu
Kau lah pemilik pilar dari hati yang bimbang
Yang terhempas oleh harapan fana
Yang tak teguh menggenggam kepastian cinta

Dengarkanlah Ya Rabb
Ragu dalam diri tiada lain hanyalah permintaan hati
Jiwa yang teraniaya oleh sunyinya makna
Dan berikanlah karuniaMu sebagai arti
Pada hidupku yang singkat ini
Hidupku yang terhempas ke lorong khilaf
Yang terlepas dari jalan dan pelukanmu
Bersamamu hilang ku dalam damai ku
Dan tanpamu hilang ku dalam gelap ku
Aku hilang selalu

Aku hilang... Yaa Rabb
Aku hilang...

KISAH SEBUTIR NASI

Do . Mi . Do . Mi . Fa . Sol . Sol
Si . Do . Si . Do . Si . Sol

Entah kenapa rasanya tidak bisa lupa pelajaran SD yang satu ini. Kunci nada gundul-gundul pacul. Lagu daerah yang konon digunakan sebagai media pitutur.

Gundul : hilangnya kehormatan seorang pemimpin. Karena rambut adalah simbol kehormatan. Mahkota bagi kepala.

Mengapa kehormatan seorang pemimpin bisa hilang?

Pacul : Papat kang ucul (empat perkara yang hilang). Mata yang tak bisa melihat kesulitan rakyat. Telinga yang tak mendengar nasihat. Hidung yang tak mencium kebaikan. Mulut yang tak berkata baik.

Lalu apa akibatnya ketika 4 perkara hilang?

Gembelengan : Sombong, angkuh, lupa diri. Sementara para pemimpin lupa bahwa yang jauh lebih dimuliakan daripada kehormatan adalah kesejahteraan rakyat.

Nyunggi wakul : ibarat menaruh tempat nasi di atas kepala, pemimpin memiliki lumbung kesejahteraan rakyat di atas kehormatannya.

Gembelengan hanya akan menyebabkan wakul glimpang. (Keangkuhan pemimpin menyebabkan hancurnya kesejahteraan rakyat)

Ups, jangan kejauhan membayangkan Presiden, Mentri, Camat. Jaga "wakul" kita dahulu. Jangan "gembelengan".

"Wakul glimpang sego ne dadi sak latar"
Kesejahteraan tidak sepenuhnya hilangnya, hanya jatuh tercampur debu. Mari sama-sama kita bersihkan agar butiran kesejahteraan bisa kita nikmati lagi seperti sedia kala.

Kamis, 05 Oktober 2017

Islamphobia ?

Ternyata bukan hanya KMI ISI Yogyakarta saja yang menerima sanksi pembekuan pasca PERPPU anti pancasila beberapa bulan yang lalu. Lalu, ada pihak yang menyebut ini sebagai islamphobia. Seperti artikel di bawah ini.

Pembubaran LDK: Bukti Nyata Islamphobia
Oleh: Dwi Maulidiniyah
Koordinator Pusat BMI Community

Lembaga Kajian KeIslaman Kontemporer (LK3) El Fath dan IMAM yang merupakan unit kegiatan mahasiswa yang selama ini bergerak dibidang dakwah Kampus/Kerohanian dan kajian keIslaman dicabut legalitasnya oleh pihak birokrat Universitas Pamulang (UNPAM). Padahal sebelumnya dua unit kegiatan Mahasiswa tersebut sudah melangsungkan kegiatannya secara resmi di dalam lingkup kampus UNPAM selama bertahun-tahun, namun secara tiba-tiba keberadaan dua UKM tersebut kini dicabut legalitasnya (Dibubarkan) setelah hasil rapat dan pertemuan Rektorat per tanggal 25 September lalu berdasarkan pengakuan dari anggota El Fath UNPAM sendiri.

Kebijakan yang tidak wajar dari pihak kampus karena UKM LK3 El Fath dan IMAM UNPAM ini hanya berisi kajian-kajian keIslaman untuk pemuda. Mereka hanyalah perkumpulan mahasiswa muslim yang peduli terhadap pergaulan pemuda agar tidak melanggar syari’at Allah yang tentunya sudah sangat jelas akhir-akhir ini banyak sekali pergaulan bebas pemuda yang merugikan mereka sendiri. Hal seperti ini harusnya didukung oleh pihak kampus, karena mereka adalah mahasiswa yang mau peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Bukan malah dibungkam dan dibekukan.

Dicabutnya legalitas UKM LK3 el fath dan IMAM UNPAM ini menunjukan bahwa ada kekhawatiran yang berlebihan dari pihak kampus terhadap ajaran Islam atau yang sering kita kenal dengan sebutan Islamphobia. Apa sebenarnya yang ditakutkan pihak kampus dari kajian Islam sendiri? Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, Islam tidak pernah mengajarkan untuk membangkang dari orang tua dan guru, Islam malah mengajarkan untuk beradab baik terhadap orang tua dan guru, Islam mengajarkan syariat yang sempurna, sehingga pantas Islam disebut rahmatan lil’alamin. Apakah ini hal yang ditakutkan oleh pihak kampus? (Artikel selengkapnya bisa cek instagram di atas)

Benarkah pihak kampus terlalu berlebihan?
Benarkah lembaga dakwah tersebut hanya mengurusi pergaulan yang syar'i saja?

Saya kira, kita harus mengingat kembali pelajaran sejarah islam. Tentang Turki Utsmani? Tentang masa kejayaan islam? Yahh, tentu saja, tapi sehubungan kasus ini terjadi di Indonesia maka mari kita buka kembali lembar sejarah islam Indonesia. Tentang NU dan MD? Tentang Walisongo? Ah sepertinya anak jaman sekarang kurang tertarik membahas "islam yang nyangkut ke area politik, juga mistis". Jadi sehubungan kasus ini tentang LDK, mari kita cek sejarah pergerakan Islam Indonesia.

Pernah dengar Serekat Islam? Pernah dengar Pan Islamisme indonesia?

Nampaknya semasa sekolah mulai SD sampai Kuliah, sejarah Islam Indonesia jarang sekali menyeret dua pergerakan besar ini ke arena perkembangan islam. Soe Hok Gie dalam buku Di Bawah Lentera Merah menceritakan cukup panjang terkait gerakan SI (Serekat Islam). Yang ahirnya pecah menjadi SI putih dan SI merah (cikal bakal komunis). Lho PKI itu asalnya dari islam to? Kok kejam?

Sebentar, sebentar,

Pada tahun 1910an bnyak bermunculan organisasi islam semacam SDI, Al Irsyad, NU, MD, dll. Yang akhirnya kebanyakan dari organisasi tersebut hancur setelah masuk ke "jebakan partai". Terbukti, organisasi islam yang mundur dari kancah perebutan jabatan masih awet hingga kini. Jadi secara garis besar, sederet organisasi islam di atas dibagi menjadi 2, yaitu islam konservatif dan islam pembaharuan. Islam konservatif cenderung fokus pada penyebaran islam lewat pintu ekonomi-budaya, sementara islam pembaharu (yang selanjutnya akan saya sebut PAN Islamisme) lebih fokus ke ranah politik.

Apa pola gerakan mereka beda?

Tidak juga, baik islam konservatif maupun Pan islamisme sama-sama dakwah, membangun sekolah, beribadah.

Lalu mengapa Pan islamisme hancur?

Karena nafsu politik. Islam konservatif menghargai Nasionalisme sementara Pan Islam bertujuan mendirikan negara khilafah. Jadi hemat saya, apa yang dihawatirkam kampus bukanlah islam. Nyatanya HMI, PMII, dan KAMMI masih berkegiatan tanpa hambatan.

Jadi rasanya tidak bijaksana menyebut peristiwa pembekuan LDK tertentu tersebut sebagai tindakan Islamphobia. Lagipula ulasan dari artikel di atas juga jauh dari bahasa organisasi meskipun sedang membahas organisasi. Tidak ada pembahasan visi misi, perundang undangan, juga otonomi kampus yang hari ini berlaku. Tidak ada organisasi yang bertujuan buruk, bahkan gerakan SI yang ahirnya melahirkan SI merah/komunis/islam sosialis juga tujuannya baik kok. Tanpa bermaksud membela komunis, sayap perempuan (Gerwani), sayap pemuda (Pemuda Rakyat), dan sayap seni-nya (Lekra) juga meninggalkan program-program positif. Baik kan?

Kesimpulannya, tentang pembekuan sebuah organisasi bukan berarti organisasi tersebut tidak baik, melainkan keberadaan organisasi tersebut telah dianggap "meresahkan" karena pola geraknya yang invasif (menyerang) organisasi lain. Jika terjadi gangguan stabilitas organisasi masyarakat, maka dampaknya bisa bermacam-macam mulai demo yang bikin macet, investor yang lari, hingga yang terburuk adalah perang. Maka tidak heran ketika di semenanjung arab banyak terjadi konflik "atas nama organisasi ini dan itu" yang sering disebut Arab Spring telah menghancurkan stabilitas negara, Indonesia sudah sewajarnya waspada.

Lalu apakah dakwah itu dilarang?

Nonton TV aja deh, mamah dedeh masih tersenyum.

By : Astasena

Kompetisi Gaya Baru

Gus Mus pernah berkata,

"Saya ini tergolong orang yang suka melakukan hal yang sia-sia. Bagaimana tidak? Sudah bertahun-tahun saya mengisi ceramah, tapi kok rasanya masyarakatnya gini-gini saja. Yang suka judi ya tetep judi, yang suka rasan-rasan ya masih lancar."

Tapi kalo dipikir lagi, setiap hari dengar ceramah saja masih belom berubah. Apalagi tidak pernah dengar ceramah? Bisa bablas ��

Menurutku semua orang sudah tau kok mana yang baik dan mana yang buruk. Sangat jelas. Bahkan stok buku motivasi dan acara dakwah di televisi makin marak. Grup WA dan beranda FB juga "pathing klathak" akan nasihat dan kata bijak. Seperti yang satu ini,

"Dear cewek. Kalo kamu tidak disukai cowok karena wajahmu, tunjukkan prestasimu, bukan auratmu"

Mana ada cewek yang mau disebut pelacur? Bahkan aku pun nggak mau. Meskipun aku sering melacurkan idealisme ku ketika stok mie instan dan promag di kost habis. Terpaksa deh, aku harus menjual kesucian ide ku untuk memuaskan ide-ide para juragan. Bahasa halusnya "mburuh".

Masalahnya, frasa "prestasi" ini teramat luas. Tak sebanding dengan frasa "aurat" yang hanya berkecimpung di seputaran tubuh saja. Yah, meskipun sebenarnya kata-kata juga punya auratnya sendiri meskipun belum banyak yang menyadari.

Bagaimana jika hari ini, banyaknya LIKE dan Comment dinilai sebagai prestasi. Bagaimana jika jumlah pacar dinilai sebagai prestasi. Banyaknya kawan, banyaknya uang, banyaknya pujian, banyaknya nge-share status orang, dan segala sesuatu yang "banyak" seakan wujud konkret dari apa yang biasa disebut "prestasi".

Kapan kita akan berhenti bertanya tentang APA dan BERAPA?

Bisakah kita bertanya tentang MENGAPA, agar proses "sawang sinawang" bisa langgeng terjaga?

Kita ini memang kebanyakan melihat pagi namun jarang melihat senja. Kebanyakan semangat, lupa merenung. Kebanyakan tadzakkur, lupa tafakkur.

Selamat pagi Indonesia.
Tetap semangat, tapi jangan lupa ngopi ��

Rabu, 04 Oktober 2017

Aziz yang Kranjingan

Untuk menjadi seorang seniman, seseorang dituntut untuk berpikir out of the box. Khususnya bagi mahasiswa seni, kerangka pemikiran tersebut mutlak dibutuhkan guna mencapai ide ide segar. Sehingga secara umum, orang yang menggeluti bidang seni tak jarang difonis "gila" oleh masyarakat.

Secara pribadi, saya sangat senang dengan tema pameran tunggal Aziz yang mengusung pembahasan klise tersebut menjadi sebuah refleksi dalam wujud visual. Harapan saya semoga apa yang akan disajikan nantinya, mampu memberi perspektif baru bagi masyarakat.

Citra "gila" bagi para pelaku seni ini sudah mengakar sejak lama di masyarakat. Bukan tanpa alasan. Pasalnya perilaku unik yang dimiliki seorang seniman seperti Van Gogh yang mengalami psikotis, Gauguin menderita schizoid, Edgar Allan Poe kecanduan alkohol, dan Virginia Woolf benar-benar depresi, sudah menjadi bukti nyata.

Keterkaitan antara kreatifitas dan kegilaan (yang sering dimaknai dengan gangguan kejiwaan) memang tak bisa disangkal. Dr Stefansson pada tahun 2015 lewat BBC mengemukakan bahwa ada kemiripan gejala genetik antara pekerja seni dan pasien bipolar. Dari survei yang dilakukan melalui 120.000 partisipan di Belanda, Swedia, dan islandia, dia menemukan 20% kesamaan gejala genetis dari dua kelompok tersebut.
Bedanya, pasien bipolar memiliki pikiran out of the box yang terbentuk secara alami, sementara pekerja seni justru sengaja melatih diri.

Yang perlu digaris bawahi, konotasi kata "gila" bagi seniman bukanlah secara mutlak mengacu pada gangguan jiwa secara klinis. Seniman dan proses kreatifnya memang melibatkan kinerja bathin yang cukup jauh sehingga rawan terjadi goncangan psikis. Namun dampak dari kegilaan jenis ini justru seringkali bermanfaat bagi sesama. Selanjutnya, perlu ada pelurusan lagi terkait budaya normatif masyarakat dan aspek unik seperti kreatifitas, agar tidak dipersempit menjadi kata "gila". Barangkali, kata "kranjingan" justru lebih mewakili.

Melihat karya-karya fotografi Aziz (hidden of tragedy, phenomena of lunacy, reflection of darkness, dan story of hope), semuanya mengusung nuansa kelam. Dengan sudut pandang formal dan mengangkan kecantikan sebagai fokus utama, ada gangguan juktaposisi benda-benda yang seakan menjadi garis penghubung satu karya dan lainnya. Ditambah lagi, nilai kontradiktif yang nampak jelas bisa menjadi pijakan awal dalam memasuki jantung kerahasiaan karya.

Saya percaya, nilai kegilaan kreatif dalam diri Aziz atau kawan mahasiswa seni lainnya bukanlah sebuah penyakit. Bisa jadi, dengan menerima bagian tergila dari dunia ini, justru menjadi langkah yang tepat menuju dimensi baru dari budaya normatif yang usang.

Orasi

KALIAN dipanggil generasi Z. Sebutan untuk ciri anak muda yang pragmatis, kreatif dan paham teknologi. Katanya generasi kalian itu suka berpetualang, tak loyal pada satu pilihan dan selalu suka mencoba hal baru. Sungguh ini ciri yang menakjubkan. Jika benar seperti itu pasti kuliah akan penuh dengan pengalaman yang mengagumkan. Tak gampang kalian didoktrin tentang kelulusan. Tak mudah kalian diperintah untuk patuh. Bahkan mungkin juga tak gampang dosen mengajar kalian. Sebab ruangan kelas pasti diramaikan oleh pertanyaan. Kelas disibukkan oleh debat dan silang pendapat. Jujur jika seperti itu aku ingin kembali lagi jadi mahasiswa. Di sana bisa muncul api pergerakan karena kampus bergolak lewat debat, kesangsian, dan pertanyaan. Karena yang ada bukan ketertiban tapi keberanian untuk menyatakan kebenaran.

Hanya aku kuatir kalian tak seperti itu. Karena kampus bukan ladang indah untuk menanam ide-ide radikal. Kini tempat itu memang lebih bagus dan mengaggumkan. Kulihat ruangan kuliah penuh fasilitas. Taman kampus berhias bangku dan bunga. Tiap jalan masuk kampus dijaga oleh satpam yang siap siaga. Belum lagi dosen yang penampilanya keren. Di antara mereka ada yang bermobil mewah dengan jabatan akademik tinggi. Tak hanya itu ada kelas International yang pengantarnya bahasa asing. Aktivitas mahasiswa pun komplit dan tinggal milih. Kamu bisa ikut lomba apapun di kampus sekarang ini. Lomba pidato, lomba wirausaha, hingga olah raga. Singkatnya kampus menjanjikan bukan hanya gelar tapi juga kegiatan yang membuatmu merasa istimewa. Iklan kampus saja sudah serupa dengan tempat wisata: deretan mahasiswa yang riang tertawa gembira.

Tentu semua itu tak gratis. Bayaran kuliah tak lagi murah seperti dulu. Tentu kamu paham ongkos jadi mahasiswa itu besar dan banyak sekali. Di fakultas kedokteran angkanya mengejutkan. Di fakultas tekhnik juga. Di fakultas hukum apalagi. Di fakultas MIPA hal yang sama terjadi. Semua itu menuntut bayaran tinggi. Maka orang tuamu menuntut hal yang sama: bereskan kuliah secepatnya karena biaya kuliah yang gila. Kamu pun punya pendapat yang serupa: kuliah mahal maka jangan buat banyak perkara. Ikuti saja perintah dosen dan patuhi saja aturan yang ada di dalamnya. Itu sebabnya kampus lalu meluncurkan mimpi tentang keberhasilan seorang mahasiswa: kuliah tertib, tinggi nilai dan cepat selesai. Keyakinan absolut itu kalian percaya padahal tak banyak bukti mendukungnya.

Sebut saja nama orang yang berhasil karena kuliah rutin. Jika masih sulit katakan siapa orang berhasil karena nilai kuliah yang tinggi? Mungkin jika kusebut nama ini kalian semua pasti tak asing lagi. Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zurckenberg. Tiga-tiganya setahuku bukan anak yang rajin kuliah. Ketiganya kurasa juga bukan anak yang meraih Indeks Prestasi (IP) tinggi. Diantaranya malah hobi membolos. Tiga-tiganya tak ada yang di- wisuda. Tapi sumbangan mereka atas kemajuan zaman tak ternilai. Gara-gara mereka kurasa kamu mengenal dunia maya. Mereka dinamai nabi teknologi. Di tangan merekalah lahir generasi Z. Tauladan mereka bukan kekayaan tapi petualangan yang gila. Secara antusias mereka meneguhkan sikap sebagai anak muda: menyangsikan keyakinan umum, melawan segala bentuk kemapanan dan memihak pada ide-ide gila. Jujur bukan hanya mereka yang mengawali keberanian itu. Para pendiri Republik jauh-jauh hari menyalakan sikap yang sama.

Jika kamu kenal Soekarno tentu kamu akan terpesona. Pria muda ini tak kita ketahui berapa lama selesaikan kuliahnya. Malahan kita tak tak mengerti rajin tidaknya ia kuliah. Yang jelas semasa mahasiswa dirinya diadili. Sewaktu mahasiswa ikut gerakan politik yang militan. Hingga pemerintah kolonial mengawasi lalu menangkapnya. Juga Hatta yang selalu meyakini kalau melawan kolonialisme adalah kewajiban. Meski kuliah di Belanda tak mau ia ikuti semua aturannya. Saat memilih pulang ia kemudian mencoba menghidupkan kesadaran rakyat akan ancaman imperialisme. Pria yang santun ini kelak akan berdiri di samping Soekarno membaca proklamasi. Sjahrir malah tak mau tamatkan kuliah. Dikenal sebagai pria romantis, pemberani dan cakap diplomasi. Di tanganya ide sosialisme itu hidup. Paling langka, pintar dan berani adalah Tan Malaka. Menulis banyak buku kemudian menjadi buron dimanapun ia berada.

Mereka itulah generasi Z. Bukan kepintaran dalam mencapai nilai tinggi tapi keberanian untuk bersikap beda. Saham mereka tak bisa dinilai dengan buku biografi semata. Di tangan mereka bangsa ini berdiri di atas kehormatan dan martabat. Tan Malaka memberi gagasan yang hingga hari ini belum mampu dicapai: Merdeka 100%. Tuntutan mereka bukan menjadi sarjana tapi orang yang berjuang untuk tegaknya nilai keadilan, kedaulatan dan kehormatan. Jika kamu lihat patung-patung megah di sekujur Ibu Kota itu ide besar dari Bung Karno. Kalau kamu pernah dengar Koperasi itu adalah gagasan Hatta. Bayangkan sebuah ide itu bertahan bahkan ketika para pencetusnya sudah tiada. Kini waktunya kamu berpikir untuk bisa menjadi seperti mereka bukan sekadar jadi sarjana. Sebab merekalah yang membuat kita bangga tinggal di negeri ini. Karena mereka kita bisa punya sejarah yang bisa membuat kagum bangsa-bangsa lain.

Sejarah mahasiswa dari dulu hingga kini tak lain adalah kekuatan pengubah. Perubahan itu bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk bangsa. Mungkin ini terdengar heroik dan kuno, tapi bagi generasi Z petualangan adalah identitasnya. Bukan kepatuhan apalagi kepercayaan buta. Maka jika dirimu adalah wakil dari generasi baru rintislah sesuatu yang beda dari sekitarmu. Tugasmu adalah mengubah keyakinan buta akan peran mahasiswa. Tidak untuk memenangkan lomba apalagi jadi kaya raya. Tidak pula selesai secepatnya atau mendapat gelar setinggi-tingginya. Itu peran seadanya dan amat sederhana. Mari lipat baju rapimu dan simpan HP mu: terjunlah ke arena pergulatan sosial yang menantang dan menjanjikan. Di sana kamu akan bertemu dengan rakyat yang rindu keadilan dan politisi brengsek yang buat kegiatan palsu. Hadapi mereka dengan riang dan jangan takut melawan resiko. Hidup yang tak dipertaruhkan adalah hidup yang tak layak dijalani.

Itu sebabnya kuajak kamu untuk mengubah kampusmu. Jangan biarkan bangunan megah itu menipumu. Hanya membuatnya patuh dan menjadikanmu robot. Rebut hari ini dengan mengubah kelas jadi letusan banyak pertanyaan. Ajari dosenmu untuk mendidik tidak hanya dengan modal menakut-nakuti atau merasa pintar sendiri. Debat mereka jika keliru dan luruskan jika diberi keyakinan palsu. Kuliah bukan tempat untuk menata hati. Kuliah bukan pula tempat para prajurit yang hanya menyatakan siap dan terima saja. Kuliah adalah belajarnya orang dewasa dan berakal: protes itu wajar dan diskusi itu wajib. Lawan kebijakan kampus yang membebanimu. Jangan takut protes jika itu bersangkut paut dengan perkara benar dan prinsip. Keberanian itu bukan modal mahasiswa tapi itulah ciri mahasiswa. Maka ikrarkan dalam dirimu kalau kuliah bukan seperti tamasya. Datang, bayar dan nikmati pelajaran. Kuliah adalah merengguk pengalaman berharga untuk bertarung merebut hal yang terhormat dan mulia.

Nilai itu adalah kedaulatan yang kini sudah perlahan-lahan menghilang. Itu adalah gagasan besar yang lama tak dibicarakan. Itu adalah keadilan yang sudah lama diabaikan. Itu adalah pengetahuan yang kini digantikan oleh keyakinan buta. Rangkuman nilai-nilai itu telah lama lapuk hanya jadi omongan dan tulisan. Bukan karena tak ada yang mau menghidupkannya tapi karena banyak orang jahanam ingin mengenyahkannya. Mereka merusak kedaulatan dengan mencuri apa saja. Koruptor sebutan terhormat. Harusnya mereka dipanggil maling di mana saja. Itu karena pandangan culas beredar dengan cara gila. Dinamailah Pansus hanya untuk mengobrak-abrik KPK. Malah ada milisi yang dengan brutal merusak kegiatan diskusi, menutup pameran lukisan hingga membubarkan acara nonton bersama. Katanya itu komunis dan lainya bilang itu sesat. Harusnya kampus memberi perlindungan bukan malah kalah oleh intimidasi. Mustinya kampus menjamin kebebasan bukan menjebloskan keberanian. Jika kampus berjalan dengan cara memeras dan menekan mahasiswanya: itu bukan ladang belajar tapi ladang judi.

Karena yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan. Yang bermain adalah jabatan bukan kecerdasan. Yang hidup adalah titel bukan karya. Mungkin itu yang membuat dosenmu tak kaya pengetahuan tapi kaya harta benda. Mungkin itu sebabnya jabatan rektor jadi rebutan ketimbang diserahkan pada siapa yang bersedia. Mungkin itu yang membuat mereka ingin jadi pejabat ketimbang jadi pengajar. Jangan kecewa kalau kampus tak memberi kamu rasa keingintahuan. Jangan pula marah jika kampus tak memberi kuliah yang menakjubkan. Jangan juga sedih jika kampus tak memberi kamu keberanian untuk menentang kemapanan. Dulu hingga sekarang kampus hanya untuk bertemu, berjumpa dan melatih dasar keyakinan. Tapi sekarang memang beda situasinya: kampus bisa menciptakan robot keyakinan buta dan lapisan anak muda yang percaya pada apa yang didengar ketimbang apa yang dibaca.

Bayangkan kampus masih mempertahankan tradisi ceramah di depan kelas. Carl Weiman, peraih nobel Fisika 2001, mengatakan itu cara paling kuno. Itu cara sebelum buku ditemukan. Ini metode belajar satu arah. Bisa menciderai sel-sel saraf di otak. Bahkan cara ini menghinamu. Dianggap kamu anak lugu yang tak tahu apa-apa. Kamu itu generasi Z yang jadi pelaku teknologi. Ciri generasimu itu cepat, tanggap, dan kritis. Kemampuanmu yang terbuka, aktif dan selalu berjejaring membikin kuliah beginian tak cocok sama sekali. Maka saat kampus berpusat pada dosen ceramah: itu yang melahirkan mahasiswa penyuka masa lalu. Otak mereka tak terbang menuju tantangan tapi sikap berlindung dan melindungi diri sendiri. Otak mereka berisi kekuatiran, kecemasan dan selalu takut melihat hal-hal baru. Jenis mahasiswa semacam ini muncul di banyak kampus belakangan ini.

Mereka adalah mahasiswa yang memiliki keyakinan diktator. Menganggap dirinya paling benar dan merasa semua gagasan yang tak sesuai sebagai sesat dan bahaya. Ciri itu makin lengkap karena dosen punya keyakinan yang hampir sama: percaya bumi itu datar dan meyakini hidup mahasiswa hanya berpusat pada sarjana, berkeluarga dan mati bahagia. Bahkan ciri itu makin menyala karena kampus bagi gelar akademik tertinggi untuk pejabat dan orang ternama. Sampai kita tak tahu mana orang yang punya pengetahuan dan mana yang sesungguhnya gila akan gelar. Ciri itu makin menggila ketika kampus berorientasi menciptakan mahasiswa kaya ketimbang mahasiswa kreatif dan bijaksana. Kalau kampus jadi rusak kulturnya maka pengetahuan bukan untuk diperdalam, diamalkan dan mengubah keadaan. Pengetahuan hanya jadi lampiran sebuah gelar, tragedi yang melahirkan korban dan ilmuwan yang merusak kehidupan.

Memalukan memang menyaksikan dosen-dosen yang membela pabrik semen. Jadi saksi ahli untuk perkara korupsi. Mau-maunya menjadi penceramah bahaya komunis tanpa argumentasi normal. Bahkan hobi sekali menipu mahasiswa dengan berkata demonstrasi tak ada gunanya sama sekali. Kacaunya lagi, ada kampus yang halamannya bisa dipakai pameran senjata. Rangkaian pendapat dan tingkah konyol itu muncul tak didasarkan pada pengetahuan tapi pikiran sempit dan buntu. Tak lagi mereka membuka diri untuk menjemput pengetahuan baru. Tak mungkin mereka berlaga dalam debat pikiran yang terbuka. Bagi mereka ukuran semua hal adalah dirinya sendiri. Khususnya posisi dan kepentingan ekonominya. Kalau yang semacam itu terbit di banyak kampus maka kuliah bukan mendirikan pengalaman baru tapi mengulang kebodohan lama. Sebab yang dipertahankan adalah kepentingan kuno ketimbang masa depan yang terbuka. Itulah masalahnya di kampusmu hari ini: barisan penjaga kemapanan yang merasa kampus bukan taman pengetahuan tapi penjara tempat anak-anak muda musti tertib seperti serdadu.

Jangan takut oleh persoalan dan jangan cemas oleh masalah. Dari dulu anak muda selalu punya soal serupa. Menghadapi lingkungan yang bahaya dengan orang yang punya pikiran tak sama. Maka tinggalkan kepercayaan palsumu tentang gelar. Berfikirlah tidak untuk dirimu sendiri. Beranjaklah pada potensi dan kesempatan yang kini ada. Kuliah memang tidak untuk tinggal dan duduk di kelas saja. Kuliah hanya pengantar untuk membawa kamu berpetualang kemana-mana. Kuliah hanya awal untuk menguji keberanian dan keyakinan. Maka ingatkan dirimu agar kampusmu tak menjadi penjaramu. Yakinkan bahwa dirimu tinggal di sini untuk sementara maka buatlah perubahan sebisa-bisanya. Perubahan yang membuat kampus tak lagi jadi tempat wisata dan belajar bukan dengan ceramah semata. Ingatlah banyak orang hebat lahir di kampus tidak dengan modal kepatuhan tapi keberanian untuk melawan keadaan. Selamat datang mahasiswa baru. Hari ini kamulah yang akan memutuskan akan jadi apa dirimu di masa depan. Semoga kamu tak sesat mengambil posisi!***

Artikel ini semula adalah bahan orasi untuk pembukaan mahasiswa baru di sejumlah kampus dan dipakai untuk disebar luaskan oleh panitia penerimaan mahasiswa baru, baik di UGM, Univ Taman Siswa, Universitas Muhammadiyah, UIN Malang, Untirta Banten dan khususnya untuk bahan sama pada Ikatan Mahasiswa Kedokteran.

Catatan Perdagangan

Berdagang memang 8 dari 10 jalan rejeki menurut Rosulullah. Juga pekerjaan yang dianjurkan.

Tapi yang bikin beliau sukses bukan kepiawaian ngitung untung rugi. Melainkan gelar "Al Amin" nya. Yaitu, komitmen kuat untuk menjaga kepercayaan baik untuk pelanggan, maupun masyarakat.

Maka jangan heran jika ada orang2 yang rela buang waktu, energi, & materi, hanya untuk pameran yang tak jelas kapan laku nya. Ketika ditanya "mengapa berbuat demikian?", maka jawabnya "CV"

Apa itu CV ?

CV adalah singkatan dari Curriculum Vitae. Yaitu sebuah upaya membentuk rekam jejak guna membangun kualitas diri. Sehigga jika ada lukisan berharga 2 milyar, pastilah yang bikin mahal CV nya. Semakin banyak CV anda, semakin profesional anda, semakin hebat karya anda.
Jadi, apapun yang kita lakukan hari ini, adalah bagian dari pembentukan harga dan kualitas. Jangan buru-buru ngurusin untung-rugi.

Itulah yang membedakan antara pedagang kaki lima dan pedagang kelas atas. Untuk menjadi sukses, dibutuhkan lebih dari sekedar makanan yang enak dan tempat yang strategis.

Anda tau dimana enaknya Aqua?