Melihat banyaknya video mesum yang dilakukan oleh anak SMP bahkan SD di Internet, membuat orang dewasa ini jadi pengen, eh prihatin maksudnya. Lebih prihatin lagi ketika mengetahui fakta bahwa kasus putus sekolah gara-gara hamil semakin marak selama 3 tahun terakhir.
Sepanjang 2015, Dinas Kesehatan DIY mencatat ada 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta yang melakukan persalinan. Dari jumlah itu, 976 diantaranya hamil di luar pernikahan. (Merdeka.Com)
Jumlah tersebut bisa dibilang fantastis. Itu baru di Yogyakarta, belum di kota besar lain. Itupun hanya yang terdata, yang tidak ketahuan bisa jadi lebih banyak. Pie perasaanmu?
Apa yang menyebabkan semua kejadian ini? Siapa yang bisa disalahkan? Bagaimana cara meminimalisir kasus tersebut?.
Pertanyaan di atas tentu otomatis menghampiri kepala orang dewasa, terlebih bagi mereka yang anaknya menginjak usia remaja. Apakah kita galakkan pendidikan SEX saja? Atau kita dukung gerakan Indonesia Tanpa Pacaran?
Sebentar, sebelum kita menfonis pacaran itu HARAM, mari kita memahami apa itu pacaran.
Pada umumnya "pacaran" dikenal sebagai bentuk nyata dari Cinta. Karena tidak cukup hanya modal kata-kata saja. Praktiknya pun bermacam-macam tergantung pelakunya. Namun pada dasarnya pacaran adalah sebuah tradisi dari melayu. Pada masa itu di melayu, ketika dua anak manusia telah saling jatuh cinta maka pria akan datang pada orangtua sang kekasih. Lalu meminta restu dari calon mertua tersebut dan menandai tangan anak gadis mereka dengan daun pacar. Sehingga sering disebut "pacaran".
Setelah ritual itu, lalu dua sejoli tersebut dipisah sekitar satu minggu untuk menjalani bimbingan pra nikah. Yg cowok diajari bagaimana menjadi kepala keluarga, dan yang cewek diajari menjadi seorang ibu yg baik.
Lalu ketika masa bimbingan tersebut berakhir, dinikahkanlah mereka.
Proses pacaran ini, hari ini lebih dikenal dengan istilah tunangan. Meskipun pada proses tunangan tersebut tidak ada bimbingan khusus pra nikah.
Nah, setelah kita menelisik asal muasal budaya pacaran, tidak heran jika mayoritas orang tua di Indonesia memperbolehkan anaknya pacaran. Lha pacaran itu baik kok, setidaknya menurut pemahaman para orangtua yang masih berkiblat pada praktik pacaran jaman bahula. Padahal pacaran hari ini itu banyak bid'ah-nya, bahkan ada yang sampai ke tahap churofat. Semar mesem misalnya, cinta ditolak dukun bertindak.
Apakah pendidikan SEX adalah solusi?
Wacana pendidikan sex bagi remaja memang telah lama beredar, namun belum jadi diaplikasikan karena sejauh yang saya tahu, pendidikan sex hanya upaya mengantisipasi kehamilan di usia remaja dengan kondom. Bukan menyembuhkan sifat "sangek'an" remaja zaman now. Ndak jijik po melihat kondom bekas tercecer di pinggir jalan? Ra masyokk pokoknya.
Menurut saya solusinya adalah pendidikan moral. "Apa dipondokkan saja?" Ya kalo anaknya mau. Pesantren memang salah satu alternatif pendidikan moral, tapi peran orangtua juga sangat penting. Misalnya mendidik anak untuk punya rasa malu, untuk bergaul sewajarnya saja, atau mengarahkan anak untuk berfikir positif-produktif juga merupakan pendidikan moral.
Di kampung ku saja yang terhitung lumayan ngerti agama, beberapa orang tua menganggap peristiwa "kecelakaan" itu hal yang wajar. Lah pantas jika anak-anak tidak merasa malu melakukan tindakan yang menyimpang. Jadi tolong dimulai dari diri kita dulu, jangan bangga nemu bokep bagus, itu "mbukak kartu" namanya. Aku yakin semua orang tau bahwa menonton konten dewasa, atau ber-ihik-ihik ria itu bukan hal baik, barangkali di antara kita juga pernah gituan, tapi gak harus dipromosikan ke tongkrongan-tongkrongan lah, cukup jadi masalalu saja.
Jika saya atau kamu sudah terlanjur "rusak", ya sudah jangan diulangi, tobat saja. Atau setidaknya, simpan untuk sendiri saja. Jangan ngajak yang lain rusak juga. Menjadi pribadi yang luwes, pemberani, dan gaul itu bukan berarti membuang rasa malu.