Kamis, 01 November 2018

Sajak Tukang Sate

Asap mengepul, wangi, bukan dupa.
Terbang bersamanya seutas harap dan doa untuk keluarga.
Satu tusuk berlalu, segenggam beras terkantongi.
Parfum yang semerbak semenit lalu, berganti keringat dan bau menyengat.

Panas bara tak sepanas kepala
Berteman gelap ia menghitung laba
Rumah bisa kapan saja sirna, motor bisa binasa, anaknya terancam tak jadi sarjana
Tak ada mesin di otot tangannya
Balsem dan koyo cabe tertancap di bahunya

Biar kaki keram tak mengapa
Ia bak ksatria yang muncul di balik ledakan
Ditembusnya kepulan asap tiap saat
Diabakannya percik api menyengat

Pun esok pagi ia tak bisa santai
Sudah waktunya bayar UKT

Kopi dan Kedewasaan Diri

Di Sebuah Siang yang Tanpa Kopi

Zidan : "Mir, nape sih suka banget ngopi ?"

Amir : "Biar sadar diri kalo hidup tu gak manis terus dan gak pahit terus Dan. Kadang manis dan pahit itu campur, baik dan buruk itu campur."

Zidan : "Lha trus napa emang kalo aku ngliat manisnya hidup aja, kan aku orangnya positif thinking"

Amir : "Bagus kok kalo bisa positif thinking terus. Tapi pahit itu pasti ada, marah pasti hadir, sedih pasti datang, putus asa pasti tiba. Nah pas pahit gitu yang sulit. Kadang kita ngeyelan, nyalahin orang lain, kadang cuman mementingkan diri sendiri, kadang nganggep sesuatu itu salah hanya karena kita belum tau apa yang sebenarnya"

Zidan : "Emang kopi bisa bikin kita tidak egois ?"

Amir : Coba lah beli kopi sendiri. Yang artinya kamu harus belajar menentukan pilihan hidupmu sendiri, menjalani pahitmu sendiri. Kan sejauh ini kita kalo ada masalah selalu minta tolong ke ortu atau teman. Itu yang menghambat seseorang menjadi dewasa.

Zidan : "Terus gimana caranya biar gak jadi orang yang ngeyelan ?"

Amir : Sesekali coba nyeduhin kopi buat orang lain. Yang artinya cobalah melayani dan memahami selera orang lain. Bagimu mungkin satu sendok itu pas, tapi beda lidah beda takaran

Zidan : Trus, biar gak nyalahin orang lain?

Amir : Coba minum kopi kental tanpa gula. Yang artinya cobalah lakukan sesuatu yang paling kamu benci, yang paling kamu gak suka. Lakukan sesuatu yg benar pahit menurutmu. Biar kamu tidak tertipu oleh apa yang dikatakan orang dan buku-buku.

Zidan : Lho emang apa yg dikatan buku salah?

Amir : Bukan salah, tapi barangkali apa yang si penulis buku alami di masa ia menulis beda dengan hari ini, dimana kamu hidup. Mungkin juga lingkungan tempat ia menulis buku dan lingkunganmu beda, juga sering apa yang dikatakan sulit oleh buku justru mudah menurut kamu. Kan bakat orang beda beda.

Zidan : Bner juga sih, kata buku menggambar itu sulit, kok bagiku mudah yaa. Aku mudeng sekarang. Trus biar kita gak menyalahkan apa yang kita belum tau gimana? Kan emang pengetahuan orang beda-beda ?

Amir : Ngopi lah yang jauh. Yang artinya keluarlah dari zona nyaman. Bertemulah orang-orang baru. Dunia ini luas, orang paling kamu anggap pinter, baik, dan hebat saat ini barangkali hanya murid dari seseorang di luar sana. Tentu lebih hebat gurunya kan?

Zidan : Iya sih. Tapi ane kan kalo ngaji youtube pilih Usadz yang ratingnya paling tinggi. Masa rating bohong?

Amir : orang nomor satu di negara ini, yang jelas dipilih langsung oleh rakyat, apakah dia orang paling baik? Tidak. Kita hanya disediakan pilihan dan disuruh memilih. Banyak yg lebih baik di luar sama.

Zidan : Iya ya bener juga. Wes yok ngopi, aku yang traktir.

Amir : Gass.

Rabu, 31 Oktober 2018

Sebuah Analisis Budaya

Islam di Indonesia (mulai zaman Nusantara hingga Indonesia) secara garis besar mengalami tiga babak perkembangan hingga saat ini. Termasuk di dalamnya praktik dan pola pikir masyarakat muslim juga ikut berubah.

Pertama, di era para wali, islam bersinggungan erat dengan tradisi-budaya jawa yang masih bernuansa hindu-budha sehingga akulturasi terjadi. Pada babak pertama ini muslim nusantara sangat percaya diri dalam berislam, sehingga berani menyerap tradisi tanpa takut kehilangan keislamannya.

Kedua, pada saat era Diponegoro, terjadilah masalah antara kraton san dunia pesantren sehingga pesantren menjaga jarak dengan kraton. Selain menjauh dari wilayah kraton, pesantren juga membangun pola pikir yang berbeda dengan kraton. Efek dari sikap tersebut mengakibatkan pesantren menjadi ekslusif, berjarak dengan masyarakat, serta mulai menolak warisan kraton. Wayang pun keluar dari lingkungan santri. Periode ini melahirkan NU dan Muhammadiyah.

Ketiga, di era 1980an, di saat kraton lebih menonjol dalam pelestarian budaya dan pesantren lebih eksklusif dalam mempelajari agama, ada masyarakat mulai kehilangan citarasa islam. Tidak semua masyarakat mampu menerima pengejawantahan islam melalui lagu dan wayang, juga tidak semua masyarakat mendapatkan pendidikan di pesantren. Sehingga dalam keringnya citarasa islam ini masyarakat mulai menerima islam transnasional sebagai cara berislam yang baru.

Melihat paparan di atas, dapat dimengerti bagaimana keadaan dan psikologi masyarakat muslim di Indonesia saat ini. Perbedaan jelas terjadi, selain bicara madzhab, pemikiran yang lahir dari tiga periode di atas juga menambah banyaknya sudut pandang dalam melaksanakan kehidupan islam di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengam umat muslim terbesar di dunia dalam hal jumlah. Setiap tahunnya lebih dari 50.000 santri yang lulus dari pesantren. Tentu setelah lulus, tidak semua santri ini menemukan kehidupan yang seperti pesantren. Kehidupan yang berjarak dari tradisi nusantara, juga berjarak dari islam transnasional. Sehingga kebingungan yang dialami alumni pesantren tersebut membawanya kepada pilihan untuk bertahan di islam-tardisi atau islam transnasional.

Sementara itu, masyarakat yang didukung arus informasi cepat melalui internet juga mengalami goncangan. Pada umumnya, islam trans nasional seperti Hizbut Tahrir, Ihwanul Muslimin, Wahabi, dan sejenisnya hanya berkembang di wilayah universitas dan kota saja. Karena itu alumni timur tengah (yang tidak sempat mengenal tradis) lebih nyaman menyebarkan faham ini di ruang tersebut. Pelebaran faham ini melaui internet sekarang sudah merambah ke desa-desa. Desa yang dulunya dekat dengan tradisi (warisan islam kraton) dan masih menjalankan budaya sekarang mulai meninggalkan budaya tersebut karena difahami debagai bid'ah, bahkan dekat dengan kemusyrikan.

Pada saat masyarakat desa mulai retak karena benturan tradisi dan arabisme (islam trans nasional) pesantren justru semakin menutup diri dari masyarakat. Para santri bahkan tidak bisa menggunakan tehnologi komunikasi karena pesantren hawatir akan fokus yang terganggu atau pengaruh dunia luar yang berbahaya. Hal ini tentu baik dalam menjaga ideologi santri agar tetap berpegang teguh pada ideologi pesantren. Pertanyaannya : sampai kapan?

Santri adalah anak zaman, ia lahir dari sebuah lingkungan dan akan kembali ke lingkungan asalnya. Pesantren boleh menanam harapan agar para santri membawa dan menularkan faham pesantren ke masyarakat. Namun pesantren juga harus sadar bahwa hanya sebagian santri yang masih punya kewarasan untuk bertahan dari benturan dual ideologi di atas, bahkan tidak sedikit yang ahirnya meninggalkan kebanggaannya sebagai santri dan tidak mau tahu soal kehidupan Islam. Sing penting urip !!!

Fenomena Santri Online

Persoalan banting setirnya santri di atas tentu bukan bagian dari kesalahan pesantren. Karena di era serba "post" ini tidak ada satupun struktur yang siap menaungi perkembangan kesadaran masyarakat. Begitu juga kraton, di era informasi ini gagal menyebarluaskan nilai tradisi dengan cara yang holistik. Penyebaran nilai tradisi warisan walisongo, meski sifatnya terbuka, namun hanya bisa dikonsumsi oleh masyarakat sekitar kraton. Mengapa? Karena penyebarannya juga tradisional, dari forum ke forum kecil saja. Sehingga acara gelar tradisi hari ini mulai kehilangan nilai edukasi dan syi'arnya, digantikan oleh nilai wisata dan komoditas.

Pesantren yang tertutup serta kraton yang gagal menyebarkan nilai tersebut membuat kekosongan nilai ruhani masyarakat diisi islam transnasional. Lalu karena penggerak dari islam transnasional ini mayoritas adalah intelektual, maka konten yang menarik serta manajemen yang baik membuat masyarakat mudah menerimanya. Cukup duduk di depan laptop saja, maka semua kebutuhan nilai ruhani masyarakat akan terpenuhi mulai dari fiqih keseharian hingga ajaran praktik berpolitik "yang islami". Pada titik inilah santri online berkembang pesat. Terlebih lagi "konflik perbedaan hari raya" NU dan Muhammadiyah cukup membuat masyarakat bingung dan jenuh. Ahirnya masyarakat memilih "islam saja" tidak pakai NU dan Muhammadiyah.

Ironisnya, alih-alih menjauh dari dua arus besar tadi, justru masyarakat terjun ke arus yang lebih besar. Arus yang meniup masalah sekecil apapun, jika ada nama "islam-nya" akan mejadi goncangan Nasional. Sangat disayangkan, masyarakat sendiri tidak tahu arus apa yang sedang mereka hadapi. Tidak tahu-menahu agenda apa dibalik semua kegaduhan ini. Juga tidak tahu sepanas apa musim semi yang kan hadir di esok hari.

M. Alwi

Rabu, 08 November 2017

Budaya Pacaran

Melihat banyaknya video mesum yang dilakukan oleh anak SMP bahkan SD di Internet, membuat orang dewasa ini jadi pengen, eh prihatin maksudnya. Lebih prihatin lagi ketika mengetahui fakta bahwa kasus putus sekolah gara-gara hamil semakin marak selama 3 tahun terakhir.

Sepanjang 2015, Dinas Kesehatan DIY mencatat ada 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta yang melakukan persalinan. Dari jumlah itu, 976 diantaranya hamil di luar pernikahan. (Merdeka.Com)

Jumlah tersebut bisa dibilang fantastis. Itu baru di Yogyakarta, belum di kota besar lain. Itupun hanya yang terdata, yang tidak ketahuan bisa jadi lebih banyak. Pie perasaanmu?

Apa yang menyebabkan semua kejadian ini? Siapa yang bisa disalahkan? Bagaimana cara meminimalisir kasus tersebut?.
Pertanyaan di atas tentu otomatis menghampiri kepala orang dewasa, terlebih bagi mereka yang anaknya menginjak usia remaja. Apakah kita galakkan pendidikan SEX saja? Atau kita dukung gerakan Indonesia Tanpa Pacaran?

Sebentar, sebelum kita menfonis pacaran itu HARAM, mari kita memahami apa itu pacaran.

Pada umumnya "pacaran" dikenal sebagai bentuk nyata dari Cinta. Karena tidak cukup hanya modal kata-kata saja. Praktiknya pun bermacam-macam tergantung pelakunya. Namun pada dasarnya pacaran adalah sebuah tradisi dari melayu. Pada masa itu di melayu, ketika dua anak manusia telah saling jatuh cinta maka pria akan datang pada orangtua sang kekasih. Lalu meminta restu dari calon mertua tersebut dan menandai tangan anak gadis mereka dengan daun pacar. Sehingga sering disebut "pacaran".

Setelah ritual itu, lalu dua sejoli tersebut dipisah sekitar satu minggu untuk menjalani bimbingan pra nikah. Yg cowok diajari bagaimana menjadi kepala keluarga, dan yang cewek diajari menjadi seorang ibu yg baik.

Lalu ketika masa bimbingan tersebut berakhir, dinikahkanlah mereka.
Proses pacaran ini, hari ini lebih dikenal dengan istilah tunangan. Meskipun pada proses tunangan tersebut tidak ada bimbingan khusus pra nikah.

Nah, setelah kita menelisik asal muasal budaya pacaran, tidak heran jika mayoritas orang tua di Indonesia memperbolehkan anaknya pacaran. Lha pacaran itu baik kok, setidaknya menurut pemahaman para orangtua yang masih berkiblat pada praktik pacaran jaman bahula. Padahal pacaran hari ini itu banyak bid'ah-nya, bahkan ada yang sampai ke tahap churofat. Semar mesem misalnya, cinta ditolak dukun bertindak.

Apakah pendidikan SEX adalah solusi?

Wacana pendidikan sex bagi remaja memang telah lama beredar, namun belum jadi diaplikasikan karena sejauh yang saya tahu, pendidikan sex hanya upaya mengantisipasi kehamilan di usia remaja dengan kondom. Bukan menyembuhkan sifat "sangek'an" remaja zaman now. Ndak jijik po melihat kondom bekas tercecer di pinggir jalan? Ra masyokk pokoknya.

Menurut saya solusinya adalah pendidikan moral. "Apa dipondokkan saja?" Ya kalo anaknya mau. Pesantren memang salah satu alternatif pendidikan moral, tapi peran orangtua juga sangat penting. Misalnya mendidik anak untuk punya rasa malu, untuk bergaul sewajarnya saja, atau mengarahkan anak untuk berfikir positif-produktif juga merupakan pendidikan moral.

Di kampung ku saja yang terhitung lumayan ngerti agama, beberapa orang tua menganggap peristiwa "kecelakaan" itu hal yang wajar. Lah pantas jika anak-anak tidak merasa malu melakukan tindakan yang menyimpang. Jadi tolong dimulai dari diri kita dulu, jangan bangga nemu bokep bagus, itu "mbukak kartu" namanya. Aku yakin semua orang tau bahwa menonton konten dewasa, atau ber-ihik-ihik ria itu bukan hal baik, barangkali di antara kita juga pernah gituan, tapi gak harus dipromosikan ke tongkrongan-tongkrongan lah, cukup jadi masalalu saja.

Jika saya atau kamu sudah terlanjur "rusak", ya sudah jangan diulangi, tobat saja. Atau setidaknya, simpan untuk sendiri saja. Jangan ngajak yang lain rusak juga. Menjadi pribadi yang luwes, pemberani, dan gaul itu bukan berarti membuang rasa malu.

Rabu, 18 Oktober 2017

CAKRAWALA PEMBEBASAN

Nyawa dari sebuah hubungan yang harmonis adalah ketika take and give nya seimbang. Entah itu hubungan induk dan anak, pertemanan, hingga bisnis. Jadi bagi siapapun yang menguasai rumus keseimbangan take and give ini sepertinya tidak akan mengalami kesulitan dalam harmonisasi hubungan. Tapi bagaimana cara mengukur keseimbangan take and give ini? Bukankah manusia secara alami lebih jelas melihat semut di ujung samodra daripada gajah di pelupuk mata?

Nah ini masalahnya. Kadang perhatian yang begitu besar diterima sebagai kepedulian yang kecil. Mirip cara kita memandang kasih ibu yang sepanjang masa itu, berapa kali kita berucap terimakasih? Pernahkan kita membalas?. Sementara segelas kopi di pagi hari dari sang pacar terasa lebih baik dari dunia dan seisinya. Rusaknya nilai tawar ini adalah karena absennya rasa ikhlas dalam dunia "take & give". Karena dalam memberi dan menerima, ruhnya adalah ikhlas.

Lebih jauh lagi, selain take & give kita juga membutuhkan ikhlas sebagai nyawa dari setiap perbuatan. Hal ini mampu menjauhkan kita dari angan-angan jangka panjang. Misalnya, ngasih orang roti tapi mengharap ada yang nyooting dan masuk TV. Kan mbelgedez itu namanya. Kita bisa terjebak harapan palsu nan berkepanjangan. Mirip ABG yang galau lantaran gagal cari perhatian.

Ikhlas pada berbagai situasi menjadi kunci penting agar hati bisa semeleh dan damai. Ikhlas level kita mah paling pol masih berharap masuk surga. Sementara bagi orang yang sudah tinggi level ikhlasnya malah gak berharap apa-apa. Orang-orang dengan label Ikhlasul Arifin ini menilai semua yang ia lakukan adalah peran Tuhan. Bernafas juga dari Tuhan, bisa gerak juga dari Tuhan, punya ide dan inisiatif juga dari Tuhan, sehingga mereka ini malu kalo berharap macam-macam. Lha terus sebenarnya berharap surga itu boleh gak? Ya boleh aja. Yang gak boleh itu kalo situ makelarin surga buat cari dukungan partai. Apalagi nglarang-nglarang orang masuk surga. Situ siapa?

Mencapai ikhlas memang sulit. Apalagi di sekolahan dan pasar kita sudah dididik untuk lebih mengutamakan untung-rugi daripada apapun. Yah memang kita punya bakat makelar kyaknya. Lalu bagaimana caranya menanam dan memupuk rasa ikhlas dalam hati?. Sebuah perbuatan biasanya tergantung dengan kondisi jiwa, sedang kondisi jiwa tergantung situasi yang ada. Misal kita lagi nonton TV ini ya, terus sinetronnya sedih abis, kan kita juga ikut sedih. Lalu sambil bersedih gitu coba sambil ngobrol, pasti obrolannya gak kalah sedih. Mendadak jadi bijak setengah mimblik-mimblik gitu. Begitupun dengan bekerja maupun beribadah. Kalo kondisi hati sedang gegana gitu, apapun yang kita lakukan jadi ter-geganakan-kan juga. hehe

Maka dari itu mari jaga hati agar senantiasa bahagia. Jadi kita bisa menikmati apapun yang kita lakukan. Menikmati ibadah itu sulit lho. Apalagi ikhlas. Wong senang aja enggak kok suruh ikhlas. Oleh karena itu, beribadah dalam suka cita menjadi penting. Maka tidak heran jika setiap orang punya cara berbeda membimbing nuansa ruhaninya menuju kondisi terbaik untuk menerima cahaya ilahi. Ada yang sambil gitaran, ada yang sampai jidatnya bercahaya, ada yang sambil nangis. Ya terserah. Karena Tuhan memberikan sejuta jalan amal menuju rahmatNya (selain ibadah wajib lho ya). Kita tinggal ambil jalan yang paling kita sukai, maka ikhlas pun mudah kita jumpai.

Manakala saat itu terjadi. Saat sukacita mewarnai jalan menujuNya, maka disanalah cakrawala pembebasan kan terbuka. Ketika kita bebas dari harapan kosong, kebencian, curiga, sedih, yang ada hanya sukacita bersamaNya.

Senin, 16 Oktober 2017

NDESO !!!

Lokalitas dan Kebebasan

Spirit lokalitas agaknya masih digadang sebagai tonggak awal di milenium ketiga ini. Hali ini didukung oleh banyaknya putra desa yang terbekali wawasan intelektual lewat akademik maupun pergaulan. Seperti kita saksikan belakangan ini kata "ndeso" mulai jadi buah bibir kala sang putra presiden tersandung kasus penodaan agama lewat video youtubenya.

Istilah "ndeso" acap kali terdengar sebagai kata umpatan akrab di daerah berkembang. Di telinga saya sendiri, kata "ndeso" tidak lebih pahit dibanding kata "celeng" atau "asu". Mirip mirip "jancuk" lah. Toh baik wong magelang, solo, mupun jogja terbiasa memanggil teman akrabnya dengan sebutan "ndes" yang berasal dari kata "ndeso".

"Pie ndes kabare? Apik to?
Hampir sama dengan
"Pie Cuk kabare? Apik to?"

Biasa saja, di tempat saya tidak ada orang tersinggung dengan kalimat tersebut. Lantas mengapa ketika Kaesang yang mengeluarkan diksi tersebut mendadak jadi hits?

Bisa jadi karena nuansa keakraban saya dan kawan2 ndeso saya tingkatannya sudah adiluhung. Ndak penting lagi perkataan, kami lebih menghargai senyuman dan sikap sosial. Disanalah perbedaan pergaulan nyata dan pergaulan netizen. Dalam komunikasi virtual macam youtube dan fb tidak ada yang bisa mengukur tingkat emosi seseorang. Padahal sudah ada fasilitas Emoticon untuk melengkapi celah ini. Tetap saja setiap kata bisa menjadi sensitif tergantung panjang dan pendeknya sumbu audiens nya.

Jika kita melihat viralnya kata Ndeso ini lewat pendekatan konflik, tentu akan menjadi rumit. Lebih lebih posisi Kaesang sebagai putra presiden lebih kuat imejnya daripada seorang youtuber. Jadi muatan emosi yang dibawanya tidak lagi dinilai sebagai sebuah karya, melainkan ekspresi politik.

Di sisi lain, akan menarik jika kita mencoba menelaah peristiwa ini melalui pendekatan fenomenologi. Jadi, kita tidak harus memusingkan diri atas golongan pro dan kontra, untung dan rugi. Ada lokalitas yang mau tidak mau harus diperhatikan. Seperti halnya Novel Genduk karya Sundari yang masuk di sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award tahun lalu, ada semacam kesepian akan bahasa lokal dari samudra sastra kita. Setelah Bumi Manusia, Ronggeng Dukuh Paruk, mana lagi karya sastra yang bermuatan bahasa lokal? Sedikit.

Lalu apa hubungannya?

Diksi "ndeso" dan diksi lokal sejawatnya, saya kira bisa menjadi tangga bagi masyarakat (khusunya netizen) untuk kembali mengapresiasi bahasa lokal dan konteks yang dibawakan. Bukan lagi waktunya mengekor barat atau tesihir trend mainstream yang disajikan televisi. Sehingga munculnya bahasa lokal bisa diparesiasi dengan baik. Tidak hanya diksi "ndeso" saja yang sedang naik daun, bahasa osing lewat langu "kanggo riko" dan bahasa jalanan NDX juga tangga lokalitas yang butuh perhatian. Terlepas dari kualitas musiknya, grup musik dengan bahasa lokal diterima dengan baik oleh masyarakat.

Lalu, Tentang kesadaran dan sikap politik yang mulai bangun dari berbagai komunitas, saya setuju dengan pendekatan Bambang Sugiharto. Beliau memaparkan bahwa adanya sikap politik yang tumbuh dari kantong komunitas adalah buah kesadaran, bahwa hari ini sudah banyak masyarakat dengan filter tinggi dalam menerima informasi. Tidak mudah digiring kesana kemari. Tapi masalah intinya, dengan adanya kesadaran tersebut adalah pola struktural yang belum memadahi.

Banyak orang bilang, hari ini negara masih gagap menghadapi kebebasan berekspresi. Mana yang karya, mana yang merupakan sikap politik, semakin tipis bedanya. Pun keduanya punya dampak nyata. Maka wajar jika masyarakat masih kesulitan memahami diksi "kondisi genting" dalam konteks bernegara. Ya jelas, negara kan pola praktiknya general, beda dengan komunitas yang berpola khas nan lokal dalam berpikir maupun bertindak.

Babak selanjutnya, manakala sikap "general" pemerintah malah justru terkesan otoriter dan menabrak HAM, diksi "kebebasan berekspresi" menjadi suara baru dari beberapa kubu yang dirugikan. Nampaknya ada yang lupa dengan peristiwa pembubaran pameran tahun lalu. Kala kebebasan berekspresi digilas oleh "etika general" dengan isu "kiri".

Ekspresi macam apa itu? Benar benar ndak ada khas nya sama sekali.

Yo ra Ndes?

SAMPAH VISUAL

"Imagination life in your creation"
-Aqua-

Imajinasi, seperti halnya tanaman. Butuh dipupuk untuk tetap tumbuh. Maka tidak heran jika imajinasi bisa layu, bahkan mati jika kita tidak mengasahnya lewat kreasi nyata.

Imajinasi, adalah sekumpulan imej (gambar) yang menjadi perbendaharaan dalam penyusunan konsep pemikiran. Ibarat konsep adalah rumus dengan aksen X, Y, dan Z, imajinasi seperti angka angka yang siap menggantikannya.

Semasa sekolah dasar hingga SMA, kita tentu akrab dengan rumus rumus seperti Aljabar, Sincostan, dll. Masih ingatkah kita? Saya sendiri lupa. Karena imajinasi saya selalu gagal mengisi rumus tersebut dengan aksen persoalan nyata.

Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa tiap hari kita menelan setidaknya 100 benda baru dan berbeda, baik lewat aktivitas nyata maupun ketika berselancar di internet. Lalu dimana benda benda tersebut? Mengapa kita tak kunjung kreatif?

Nampaknya benda-benda itu hanya mangkrak sebagai sampah visual di pikiran. Nyaris tak tersentuh rumus. Imajinasi yang terselenggara pun, bukan upaya penyusunan imej, melainkan konsep-konsep buta saja.

Seperti ketika kita melihat potret pengemis, atau antrean panjang di rumah sakit. Apa yang ada di pikiran kita? Adakah sampah visual di otak kita bisa tersusun dan menjelma solusi atas kenyataan tersebut? Tidak. Justru kita lupa bahwa raut wajah lapar pengemis dan menguapnya harapan dari pasien RS adalah sebuah masalah. Ahirnya, kembali kita konsumsi potret tak menyenangkan trsebut sebagai imej semata.

Bukankah kita mirip dengan mereka yang selalu kurang dengan gaji halalnya? Jangan-jangan mental koruptor adalah milik kita bersama.

Lalu kegilaan akan konsep-konsep ini semakin parah karena semangat zaman pun mengamininya. "Selamat datang di hari hari yang konseptual". Begitu kata para pakar. Hari dimana kesadaran akan saham kehidupan membuncah, membadai, menyambar pikiran. Entah petani, entah profesor, sekarang nampak sama pintarnya. Bahkan semua orang punya konsep hidup ideal, negara ideal, sistem ideal.

Oke jika semua berkonsep ria, kenyataan milik siapa? Apa rasa lapar butuh konsep?

Beberapa bulan lampau, ada seorang kawan yang memiliki masalah keluarga. Yang satu taat agama, yang satunya taat logika. Peranglah konsep disana, padahal sejatinya asal sama-sama terpenuhi standar hidupnya semua bakal lupa soal konsep. Mirip konflik horizontal di negara ini, ngomongnya saja konflik ideologi, padahal rebutan kapling.

Bukankah begitu sifat kita? Waktu lapar dan kenyang pasti beda tema pembicaraannya.

Imajinasi, hendaknya menyusun imej dan konsep menjadi satu kreatifitas nyata. Hingga bisa dinikmati sebagai keindahan ekspesi. Bukan lempar konsep sembunyi tangan. Karena yang dekat di gaji seharusnya juga dekat di hati.