Asap mengepul, wangi, bukan dupa.
Terbang bersamanya seutas harap dan doa untuk keluarga.
Satu tusuk berlalu, segenggam beras terkantongi.
Parfum yang semerbak semenit lalu, berganti keringat dan bau menyengat.
Panas bara tak sepanas kepala
Berteman gelap ia menghitung laba
Rumah bisa kapan saja sirna, motor bisa binasa, anaknya terancam tak jadi sarjana
Tak ada mesin di otot tangannya
Balsem dan koyo cabe tertancap di bahunya
Biar kaki keram tak mengapa
Ia bak ksatria yang muncul di balik ledakan
Ditembusnya kepulan asap tiap saat
Diabakannya percik api menyengat
Pun esok pagi ia tak bisa santai
Sudah waktunya bayar UKT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar