"Imagination life in your creation"
-Aqua-
Imajinasi, seperti halnya tanaman. Butuh dipupuk untuk tetap tumbuh. Maka tidak heran jika imajinasi bisa layu, bahkan mati jika kita tidak mengasahnya lewat kreasi nyata.
Imajinasi, adalah sekumpulan imej (gambar) yang menjadi perbendaharaan dalam penyusunan konsep pemikiran. Ibarat konsep adalah rumus dengan aksen X, Y, dan Z, imajinasi seperti angka angka yang siap menggantikannya.
Semasa sekolah dasar hingga SMA, kita tentu akrab dengan rumus rumus seperti Aljabar, Sincostan, dll. Masih ingatkah kita? Saya sendiri lupa. Karena imajinasi saya selalu gagal mengisi rumus tersebut dengan aksen persoalan nyata.
Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa tiap hari kita menelan setidaknya 100 benda baru dan berbeda, baik lewat aktivitas nyata maupun ketika berselancar di internet. Lalu dimana benda benda tersebut? Mengapa kita tak kunjung kreatif?
Nampaknya benda-benda itu hanya mangkrak sebagai sampah visual di pikiran. Nyaris tak tersentuh rumus. Imajinasi yang terselenggara pun, bukan upaya penyusunan imej, melainkan konsep-konsep buta saja.
Seperti ketika kita melihat potret pengemis, atau antrean panjang di rumah sakit. Apa yang ada di pikiran kita? Adakah sampah visual di otak kita bisa tersusun dan menjelma solusi atas kenyataan tersebut? Tidak. Justru kita lupa bahwa raut wajah lapar pengemis dan menguapnya harapan dari pasien RS adalah sebuah masalah. Ahirnya, kembali kita konsumsi potret tak menyenangkan trsebut sebagai imej semata.
Bukankah kita mirip dengan mereka yang selalu kurang dengan gaji halalnya? Jangan-jangan mental koruptor adalah milik kita bersama.
Lalu kegilaan akan konsep-konsep ini semakin parah karena semangat zaman pun mengamininya. "Selamat datang di hari hari yang konseptual". Begitu kata para pakar. Hari dimana kesadaran akan saham kehidupan membuncah, membadai, menyambar pikiran. Entah petani, entah profesor, sekarang nampak sama pintarnya. Bahkan semua orang punya konsep hidup ideal, negara ideal, sistem ideal.
Oke jika semua berkonsep ria, kenyataan milik siapa? Apa rasa lapar butuh konsep?
Beberapa bulan lampau, ada seorang kawan yang memiliki masalah keluarga. Yang satu taat agama, yang satunya taat logika. Peranglah konsep disana, padahal sejatinya asal sama-sama terpenuhi standar hidupnya semua bakal lupa soal konsep. Mirip konflik horizontal di negara ini, ngomongnya saja konflik ideologi, padahal rebutan kapling.
Bukankah begitu sifat kita? Waktu lapar dan kenyang pasti beda tema pembicaraannya.
Imajinasi, hendaknya menyusun imej dan konsep menjadi satu kreatifitas nyata. Hingga bisa dinikmati sebagai keindahan ekspesi. Bukan lempar konsep sembunyi tangan. Karena yang dekat di gaji seharusnya juga dekat di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar