Senin, 16 Oktober 2017

FUNGSI TELESKOP

Dewasa ini kita melihat adanya agama yang mulai kehilangan keyakinan. Seperti indahnya air yang bercampur warna, namun tak bisa diminum.

Juga banyak keyakinan yang tumbuh liar tanpa agama. Seperti air jernih, namun tak suci.

Keduanya tak layak saling menyalahkan. Bagi mereka yang berpedoman pada kemanusiaan, kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian menjadi kitab sucinya. Maka tidak heran jika jenis ini risih melihat visual agamis yang egois. Gagal menemukan kemanusiaan. Mengapa di negri yang katanya banyak orang miskin justru paling banyak ngantri terbang ke tanah suci?

Juga sebaliknya, kemanusiaan yang terlalu disucikan berpotensi membawa manusia ke jurang hasrat. Maka tidak heran jika kaum agamis juga risih dengan kemanusiaan yang makin lama makin mirip hewan.
Mengapa di negara yang hingar memperingati hari Kartini dan sangat menghargai kehormatan wanita, justru menjadi pasar potensial dengan seksualitas sebagai ikon nya?
Iklan sebelah mana yang tidak mempertontonkan kecantikan dan keseksian?

Masih ingat dengan viralnya hastag "hari patah hati nasional" ketika netizen jomblo kecewa dengan Raisa yang tunangan?. Lalu tak lama sesudahnya, muncul hastag "hari patah hati dunia ahirat" yang dipopulerkan fangirl syariah mengiringi nikahnya Muzammil?

Bagiku, keduanya sama-sama gagal menunjukkan sisi kedewasaan dalam menyikapi persoalan.

Kemanusiaan, keyakinan, dan agama, selanjutnya akan menjadi persoalan bersama. Mari kita lihat adik-adik kita, sesekali harus kita ajak bermain teleskop. Lalu coba tanyakan pada mereka, "apa yang akan kau teropong?". Kesucian kawan wanita mu, atau planet yang mungkin kita huni ketika bumi mati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar