Kamis, 05 Oktober 2017

Kompetisi Gaya Baru

Gus Mus pernah berkata,

"Saya ini tergolong orang yang suka melakukan hal yang sia-sia. Bagaimana tidak? Sudah bertahun-tahun saya mengisi ceramah, tapi kok rasanya masyarakatnya gini-gini saja. Yang suka judi ya tetep judi, yang suka rasan-rasan ya masih lancar."

Tapi kalo dipikir lagi, setiap hari dengar ceramah saja masih belom berubah. Apalagi tidak pernah dengar ceramah? Bisa bablas ��

Menurutku semua orang sudah tau kok mana yang baik dan mana yang buruk. Sangat jelas. Bahkan stok buku motivasi dan acara dakwah di televisi makin marak. Grup WA dan beranda FB juga "pathing klathak" akan nasihat dan kata bijak. Seperti yang satu ini,

"Dear cewek. Kalo kamu tidak disukai cowok karena wajahmu, tunjukkan prestasimu, bukan auratmu"

Mana ada cewek yang mau disebut pelacur? Bahkan aku pun nggak mau. Meskipun aku sering melacurkan idealisme ku ketika stok mie instan dan promag di kost habis. Terpaksa deh, aku harus menjual kesucian ide ku untuk memuaskan ide-ide para juragan. Bahasa halusnya "mburuh".

Masalahnya, frasa "prestasi" ini teramat luas. Tak sebanding dengan frasa "aurat" yang hanya berkecimpung di seputaran tubuh saja. Yah, meskipun sebenarnya kata-kata juga punya auratnya sendiri meskipun belum banyak yang menyadari.

Bagaimana jika hari ini, banyaknya LIKE dan Comment dinilai sebagai prestasi. Bagaimana jika jumlah pacar dinilai sebagai prestasi. Banyaknya kawan, banyaknya uang, banyaknya pujian, banyaknya nge-share status orang, dan segala sesuatu yang "banyak" seakan wujud konkret dari apa yang biasa disebut "prestasi".

Kapan kita akan berhenti bertanya tentang APA dan BERAPA?

Bisakah kita bertanya tentang MENGAPA, agar proses "sawang sinawang" bisa langgeng terjaga?

Kita ini memang kebanyakan melihat pagi namun jarang melihat senja. Kebanyakan semangat, lupa merenung. Kebanyakan tadzakkur, lupa tafakkur.

Selamat pagi Indonesia.
Tetap semangat, tapi jangan lupa ngopi ��

Tidak ada komentar:

Posting Komentar