Rabu, 04 Oktober 2017

Aziz yang Kranjingan

Untuk menjadi seorang seniman, seseorang dituntut untuk berpikir out of the box. Khususnya bagi mahasiswa seni, kerangka pemikiran tersebut mutlak dibutuhkan guna mencapai ide ide segar. Sehingga secara umum, orang yang menggeluti bidang seni tak jarang difonis "gila" oleh masyarakat.

Secara pribadi, saya sangat senang dengan tema pameran tunggal Aziz yang mengusung pembahasan klise tersebut menjadi sebuah refleksi dalam wujud visual. Harapan saya semoga apa yang akan disajikan nantinya, mampu memberi perspektif baru bagi masyarakat.

Citra "gila" bagi para pelaku seni ini sudah mengakar sejak lama di masyarakat. Bukan tanpa alasan. Pasalnya perilaku unik yang dimiliki seorang seniman seperti Van Gogh yang mengalami psikotis, Gauguin menderita schizoid, Edgar Allan Poe kecanduan alkohol, dan Virginia Woolf benar-benar depresi, sudah menjadi bukti nyata.

Keterkaitan antara kreatifitas dan kegilaan (yang sering dimaknai dengan gangguan kejiwaan) memang tak bisa disangkal. Dr Stefansson pada tahun 2015 lewat BBC mengemukakan bahwa ada kemiripan gejala genetik antara pekerja seni dan pasien bipolar. Dari survei yang dilakukan melalui 120.000 partisipan di Belanda, Swedia, dan islandia, dia menemukan 20% kesamaan gejala genetis dari dua kelompok tersebut.
Bedanya, pasien bipolar memiliki pikiran out of the box yang terbentuk secara alami, sementara pekerja seni justru sengaja melatih diri.

Yang perlu digaris bawahi, konotasi kata "gila" bagi seniman bukanlah secara mutlak mengacu pada gangguan jiwa secara klinis. Seniman dan proses kreatifnya memang melibatkan kinerja bathin yang cukup jauh sehingga rawan terjadi goncangan psikis. Namun dampak dari kegilaan jenis ini justru seringkali bermanfaat bagi sesama. Selanjutnya, perlu ada pelurusan lagi terkait budaya normatif masyarakat dan aspek unik seperti kreatifitas, agar tidak dipersempit menjadi kata "gila". Barangkali, kata "kranjingan" justru lebih mewakili.

Melihat karya-karya fotografi Aziz (hidden of tragedy, phenomena of lunacy, reflection of darkness, dan story of hope), semuanya mengusung nuansa kelam. Dengan sudut pandang formal dan mengangkan kecantikan sebagai fokus utama, ada gangguan juktaposisi benda-benda yang seakan menjadi garis penghubung satu karya dan lainnya. Ditambah lagi, nilai kontradiktif yang nampak jelas bisa menjadi pijakan awal dalam memasuki jantung kerahasiaan karya.

Saya percaya, nilai kegilaan kreatif dalam diri Aziz atau kawan mahasiswa seni lainnya bukanlah sebuah penyakit. Bisa jadi, dengan menerima bagian tergila dari dunia ini, justru menjadi langkah yang tepat menuju dimensi baru dari budaya normatif yang usang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar