Minggu, 07 Februari 2016

Terkadang..... Aku merasa menjadi orang beruntung ketika melihat orang-orang ada yang frustasi karena tujuan hidupnya tak tercapai. Masih cukup lazim jika ekspresi kekecewaannya hanya menumpahkan susunan kata di tembok kota. Bukan menjadikan darah saudaranya di sosial media. Ah, mungkin yang kumaksud bukan tujuan hidup. Karena Tuhan sudah memberi "bocoran" dari tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya kusebut "standard kebahagiaan" Bagi remaja yang blum menemukan standard kebahagiaan sepertiku, bahagia itu menjadi sangat sederhana. Seperti apa yang dikatalan Om Bob, bahwa kesuksesan hari ini adalah makan sepiring nasi. Tentu dari hasil jiri payah sendiri. Meskipun kebahagiaan itu nampak sederhana, bukan berarti kata "pasrah" bisa jadi tameng untuk menhindar dari tanggungjawab. Aku punya keluarga dan senyum yg berharga, aku punya agama yang rindu pada masa kejayaannya, aku juga punya negara tempat berpijaknya orang2 tercinta, selain itu aku juga seorang pelajar yg ditunggu manfaat ilmunya. Kiranya, dengan atau tanpa definisi kaku dari "kebahagiaan", cobalah menyibukkan diri atas potensi yg diberikan Tuhan. Jangan bangga memakan padi tetangga, jangan puas meminjam otak orang lain, dan berdirilah di kaki sendiri. Itu yg disebut manusia MERDEKA.... " sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya" (bukan menebar duka dan air mata)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar